BI rate turun, lalu …

Pada 6 Desember lalu Bank Indonesia menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 8 persen. Banyak kalangan, termasuk pemerintah menyambut baik langkah ini. Namun, agaknya kita perlu mencermati lebih seksama.

Kita sudah barang tentu lebih yakin penurunan BI rate punya landasan yang kuat apabila laju inflasi sedang dalam kecenderungan menurun. Faktanya penurunan laju inflasi baru berlangsung dalam tiga bulan terakhir dan gerak turunnya sangat lambat. Inflasi (Indeks harga konsumen) bulan November masih tergolong tinggi, yakni 6,71persen, sementara itu inflasi inti (core inflation) juga masih tergolong sangat tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga, yakni 6,25 persen (year on year). Laju inflasi bulan Desember dan sekaligus laju inflasi untuk keseluruhan tahun 2007 diperkirakan lebih tinggi lagi, boleh jadi mendekati 7 persen. Laju inflasi relatif tinggi masih akan membayang-bayangi perekonomian Indonesia pada 2008: harga BBM akan naik, juga listrik, bahan makanan, dan sebagainya.

Berarti, selisih BI rate dengan inflasi hanya sedikit di atas 1 persen, bahkan tak tertutup kemungkinan bisa di bawah 1 persen. Sebagai perbandingan, Fed Fund Rate (AS) dewasa ini adalah 4,5 persen, dan laju inflasi 2,8 persen. Sehingga selisihnya 1,7 persen. Selisih di AS sudah lebih tinggi dari Indonesia.

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa semakin tipis selisih tersebut, menyebabkan stabilitas makroekonomi terganggu. Apalagi sekarang laju inflasi sudah melampaui suku bunga deposito.

Interests
Sumber: Economist

Peraga di atas menunjukkan, negara-negara yang mengalami tekanan inflasi menaikkan suku bunga. Ada sepuluh negara yang melakukan langkah tersebut (gambar sebelah kanan, kebanyakan negara-negara Eropa). Sebaliknya, negara-negara yang mengalami ancaman resesi menurunkan suku bunga (gambar sebelah kiri: Amerika Serikat, Brazil, dan Turki).

Apakah bagi Indonesia lebih besar ancaman resesi atau inflasi? Fakta menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi (produk domestik bruto) sudah mengalami peningkatan yang terus menerus selama enam triwulan berturut-turut, kecuali triwulan pertama 2007. Akselerasi pertumbuhan tampaknya masih akan berlanjut pada triwulan keempat 2007 dan tahun depan.

Dari gambaran di atas, tampaknya ancaman inflasi lebih nyata, sedangkan ancaman resesi untuk sementara waktu "jauh api dari panggang." Jika ini yang jadi kenyataan, BI terpaksa kembali menaikkan BI rate. Kalau ini yang terjadi, kredibilitas BI merosot, sehingga menambah ketakpastian.

Kita harus lebih waspada. Bagi yang memiliki portofolio di pasar uang dan pasar modal, hendaknya lebih berhati-hati. Tahun 2008 tampaknya akan lebih gonjang-ganjing.

Satu catatan terakhir, cadangan devisa kita pada 30 November turun cukup tajam sebesar lebih dari US$1 miliar, persisnya US$1,132 dibandingkan posisi seminggu sebelumnya (23 November). Penurunan setajam ini sangat jarang terjadi dalam 3 tahun terakhir, kecuali tatkala kita dua kali mempercepat pembayaran utang kepada IMF. 

One Response to “BI rate turun, lalu …”

  1. Yanuar Says:

    Bang Faisal di artikel ini mengemukakan benchmarking selisih (spread) antara rate Bank Sentral dengan Inflation Targeting-nya.. Sebenarnya selisih itu terjadi, juga dipengaruhi spread dengan rate Bank Sentral Lainnya. Ini adalah konsukuensi dari terbukanya pasar keuangan Dunia (Amerika Serikat, The Fed, juga yang mempeloporinya).

    Karenanya Bernanke sejak sebelum turunkan rate pertama kali, sudah bilang dimana-mana bahwa dampak subprime harus ditangulangi BERSAMA oleh seluruh Bank Sentral (sok solidaritas, padahal kalau yang lain lagi susah juga suka lupa ha…ha..ha)…

    2 hari setelah Bernanke ngomong di Frankfurt, Cina malah nantang naikan rate 28 poin(14 sept 07).. paska tantangan ini ECB (Bank Sentral Eropa) mengatakan akan hati-hati untuk ikuti langkah The Fed… sebelumnya BI bilang ada kemungkinan ikut The Fed… Tapi kemudian memilih tetap setelah melihat langkah Cina..

    Bagi Bernanke turunkan Fed rate lebih karena tekanan politik dalam negeri AS.. karena rekening reserve memperlihatkan upaya turunkan bunga diskonto (seasonal kredit) tidak efektif… jadi harus didorong primary kredit yang berarti bunga patokan Fed rate harus turun… ini terlihat dari omongan Menkeu AS “Dampak subprime akan memakan waktu lama”..

    Serangan Cina, membuat Jepang malah aliansi dengan Cina dengan tanda-tangani perjanjian penguatan pasar keuangan kedua negara (20 Okt).. ini buat The Fed repot..karena arus dana masuk ke Asia dan pelemahan USD terhadap Euro (akibat ECB jadi hati2x)

    Kalau dilihat The Fed tekan Asia untuk “solidaritas” dengan mereka dengan turunkan rate, agar selisih antara rates negara asia dengan The Fed dapat dijaga…

    Yang terjadi di penurunan BI rate kemarin, kalau dilihat dari dimensi The Fed vs PBC (Cina), maka kelihatannya kita sudah “terbawa” ke paradigma “The Fed”.. padahal game baru dimulai ha…ha..ha… Cina benar2x nyerang, dengan dia keluarkan regulasi transakasi forward diperketat… Itulah kalau kita liat The Fed langsung terjun melakukan Operasi Pasar Terbuka (OPT) dalam bentuk intervensi langsung di pasar uang… inilah sumber penguatan USD terhadap Euro dan Yen…

    Nah, di posisi itu karena pasar kita tipis (dalam arti domestic financial literate), maka tekanan hedge fund lebih bermain di pasar uang global di mata uang incaran The Fed menjadi FAKTA… sehingga, bandar lokal butuh insentif BI rate… riset saya dari tahun 2002 buktikan bahwa trio macan (saham - BI rate - Kurs) selalu menjadi komando di pengelolaan dana bandar di market kita…

    Yang terjadi kemarin, dari Senin - Rabu sebelum RDG BI… semua analis bilang BI rate turun… Saham dinaikkan ke atas… kurs dibuat menguat.. agar BI yakin… lalu.. tapi liat pola real time-nya .. terjadi day trading (volatilitas naik-turun kayak main Yoyo ha…ha..ha) itu tunjukan kerjaan spekulan lokal.. Inilah yang tekan BI juga, disamping The Fed… ujungnya cari selisih (capital gain)..

    Riset saya sejak 2002, tunjukan sehari sebelum BI rate diumumkan turun.. saham selalu dibuat naik.. setelahnya dibuat turun… dan itu konsisten sampai kemarin.. artinya ada realisasi posisi short… Rupiah dibuat menguat cepat..

    Ke pertanyaan Abang soal lalu?.. saya baca pidato Gubernur PBC di Kongres PKC.. kurang lebihnya dunia sudah seperti Robin Hood.. kita tarik financial netting dari Financial Market dan gunakan untuk perkuat Fundamental… Jadi, naikkan rate belajar dari Cina bukan berarti ekonomi memburuk… justru BERTARUNG.. financial netting inilah yang selalu di-balance oleh PBC ke “kompensasi” bagi bergeraknya intermediasi… kalau kita turun aja intermediasi tidak JALAN.. berarti yang salah Pemimpinnya Bang .. tak tahu mesti ngapain … ha..ha…

    Tabik,
    Yanuar Rizky (www.elrizky.net)

Leave a Reply