Ingat masa lalu

Rabu kemarin lusa saya ke Macau via Hong Kong. Tinggal landas dari bandara Soekarno-Hatta menjelang sore. Kala menyajikan makan malam, seperti biasa, ada menu pembuka: dua jenis salad, dan roti plus menteganya. Giliran muncul makanan utama, saya pilih menu ikan dan nasi panas. Mentega masih utuh.

Belakangan ini selera makan menurun, entah kenapa. Tiga iris ikan tak bisa saya habiskan. Tapi nasi habis saya lahap. Mentega itulah yang menolong. Seiris demi seiris mentega saya susupkan ke nasi yang masih hangat, membuat rasa nasi jadi gurih.

Saya teringat masa kecil dulu, sedang lahap-lahapnya selera makan. Kala Mak tak bisa menyajikan apa-apa, saya kerap menyolekkan mentega ke nasi panas. Oh.. masa lalu.

Saya juga punya kebiasaan ganjil, sampai sekarang sesekali masih dilakukan. Jika selera makan terkikis, saya beli durian untuk jadi lauk tunggal menemani nasi. Buyut saya melakukannya juga, tapi kelihatannya cuma menular ke cicitnya yang ini.

Dsc03258Banyak lauk, tapi tak lupa saya pilih durian. Di Asahan.

Bagi sahabats yang pernah ke Kalimantan tentu pernah melihat, atau mungkin merasakan elai (bukan lae), sejenis durian. Elai berwarna kemerahan, tak menyebar bau menyengat seperti durian. Konon, elai tak mengandung kolesterol.

Lae03Elai, banyak dijumpai di Kalimantan. Yang ini didapat di Samarinda.

Ingin tahu makanan favorit saya? Rasanya hampir semua jajanan pinggir jalan saya suka. Di antaranya: soto mie YPK, toge goreng mana saja (tapi yang terasa paling enak adalah yang di rest area jalan tol arah Bogor-Jakarta), ketoprak ciragil, gado-gado boplo, dan pecel-madiun gondangdia, mpek2 saga (sudi mampir, Palembang). Dulu suka juga mie ayam bloon, tapi sekarang tak ada yang temani ke sana.   

Kalau urusan teh tarik, yang paling enak di tea addict, jl. gunawarman. Urusan kopi? Ya di Banda Aceh, di keude kupi Abu Solong, Ulee Kareng, tempat teman-teman beraneka latar belakang berdiskusi. Cara memasak yang unik, bikin rasa kopi lebih "nendang". Ngopi di tepian danau toba juga nikmat. Mungkin lebih karena cuaca dan suasananya. Saya baru dapat kopi Siborongborong. Duh, enak sekali, aromanya yahud.

P1060450Teh tarik di Tea Addict. Apanya yang terik ya? Kan dituang-tuang?

P1060354Di dapur Warkop (Keude kupi) Abu Solong, Ulee Kareng, Banda Aceh. Beginilah kopi dimasak.

4 Responses to “Ingat masa lalu”

  1. Aku Says:

    emang enak durian jadi lauk bang???apa gak tambah eneg neh???hehehehe…maaf…
    kl duriannya aja seh enak abisss
    tp kl nasi+durian bener2 enak..aku pingin coba deh…

  2. Faisal Says:

    Kalau di Sumatera pada umumnya pakai beras ketan. Di kedai-kedai durian di Pekan Baru disediakan ketan + kelapa parut. Di Kayu Tanam, Sumbar, disediakan lemang atau ketupat ketan. Di beberapa daerah di Sumut, ketannya pakai santan. Kalau kebiasaan saya dan Buyut, memang tak lazim.

    Di Bangkok, saya pernah makan siang di kedai sederhana. Di depan kedai saya lihat ada tukang durian monthong. Saya minta izin ke pemilik kedai apakah bisa bawa durian ke dalam kedai. Ternyata boleh. Jadilah makan siang saya dengan lauk durian. Tapi, durian paling enak (lemak nian, kata orang Palembang), ya durian kita, terutama durian Sumatera.

  3. husmul Says:

    Bang….aku anak kalimantan….suka durian termasuk elai (aku menyebutnya demikian).
    Menurutku sih, durian jauh lebih nikmat ketimbang elai. Rasanya yang manis dan kadang terasa pahit lantaran terlampau matang membuat suasana lidah semakin bergoyang.
    Salam sukses untuk abang di tahun 2008. Amin

  4. Faisal Says:

    Terima kasih banyak koreksinya. Saya sesekali saja makan dengan lauk durian, kala selera makan betul-betul hilang. Durian memang lebih enak. Bagi orang2 tua yang pantangannya banyak, elai jadi alternatif durian.. pelipur laralah..

Leave a Reply