Renungan akhir tahun
Pengantar:
Di pengujung tahun kemarin saya berencana hadir pada acara Catatan Akhir Tahun yang diselenggarakan komunitas seniman Cafe Darmint, Pasar Festival. Acaranya sangat sederhana, diisi oleh musik rakyatm doa lima agamam, dengan sajian bajigur dan serba rebusan: kacang, singkong, pisang.
Namun, acara terpaksa tak berlanjut setelah pagelaran dua lagu, karena hujan lebat. Panitia tak menyiapkan tenda.
Pada acara ini, saya diminta menyampaikan catatan akhir tahun tentang kebangsaan selama 7 menit. Daripada berorasi, saya pikir, lebih baik goreskan kata-kata puitis. Idenya diilhami ungkapan Sa’adi, sastrawan Iran: "Siapa pun yang tak mampu merasakan kepedihan orang lain, tak pantas menyebut dirinya manusia." Jadilah seperti berikut ini.
Kami Mau bangkit
Merah darah kami//merah pula darah mereka//Karena itu,//mereka hisap darah kami
Mereka bilang: ini negeri kami juga//Karena itu,//mereka gasak seisinya
Yang tersisa//derita kami
Mereka bergelimangan harta dan kemewahan//kami merintih dalam gelap
Mereka pesta kembang api//kala rumah-rumah kami disapu ombak dan air bah
Kami terluka//sangat dalam …
Duka kami//duka petani//duka nelayan//duka kaum buruh//duka kaum papa//duka anak negeri//duka kami semua
Tapi, bukan mereka
Kami tak mau mencerca//pula, sumpah serapah
Kami mau bangkit//kami tak ratapi kenyataan pahit//kami bendng airmata di kelopak//kami tak sesali takdir
Kami ingin himpun kekuatan terserak//kami hendak bentangkan asa tersisa
Karena kami tahu,//Tuhan mendengar gelora hati kami//Tuhan melihat lilin-lilin kecil yng kami nyalakan di sanubari
Tuhan ada di mana-mana//Akan mengirim bala bantuan kepada kami//meruntuhkan tembok-tembok berhala//melepaskan belitan-belitan yang membuat nafas kami tersengal.
***