Archive for January, 2008

A Strange Autumn (by: Nabila Basri)

Wednesday, January 30th, 2008

The sun has rise

It’s time to feel the cool breeze

Fear of this surprise

This season will mesmerize

I put on my jacket

I walk out the door

And there was a packet

In front of my door

I felt surprised

To have a packet in autumn

No one has got one

I felt forlorn

I picked it up and went back to the house

I lay it down on the chair

And ignored it like I ignored a mouse

And I went out the door

And felt the warm breeze in my cheeks

I sniffed the air to smell sugar perfume

I said, “I wish autumn would last for weeks,”

The road was calm

There were only a few cars

Flowers bloomed like mad

I felt them smiling inside the park

I went to the café

To get some coffee

And to have a breakfast like toffee

I sat on the pantry

And looked through the windows

Everything was turning out perfectly

I had my coffee and my breakfast

And I went to a bench outside the café

I knew someone was watching me

I knew it was her

She, who made my life bizarre,

Finally she let out a peep and a little wave

I smiled and waved back

She walked slowly to me and sat on the bench

We were silent for these few minutes

She fetched something from her pocket

It was strips of bubblegum

She handed one of them to me and said “here”

I said thank you and she disappeared

Autumn can be relaxing and fun

But when you realize that this season is really something

You can tell that people are being shy under the sun

So watch out for slippery slippers while you’re running

What I mean is…

You can’t just sit back and relax in autumn…

Dedicated to: My Dad

Riwayat Singkat Beras Merah-Putih

Saturday, January 26th, 2008

Walaupun hanya tiga butir padi yang diperlihatkan oleh Ir. Gatot Supangkat, MP., Dosen Fakultas Pertanian UMY, cukup mencengangkan dengan warnanya yang lain dari biasanya. Warna yang sama dengan bendera kebangsaan Indonesia merah putih. Sepintas orang akan berfikir bahwa warna tersebut didapatkan dari hasil perkawinan beras merah dan beras putih. Tetapi, jauh dari dugaan, warna tersebut sebenarnya warna natural, sebagaimana biasa berasal dari padi yang tumbuh secara normal.

Dituturkan D. Hartanto, sang pengembangbiak beras dwiwarna tersebut, beras yang kemudian diberinama RI-1 merupakan beras yang berasal dari sekitar abad 12 silam. Bersama temannya Adjikoesoemo (Sarjana Filsafat UGM), Hartanto mendapatkan butiran padi tersebut dari penduduk yang menemukannya di reruntuhan candi yang berlokasi di kawasan Sleman 16 Februari lalu. "Padi yang diserahkan tersebut hanya berjumlah 160 biji. Semula kami tak percaya kalau itu adalah beras jaman dulu, kami belum pernah melihat padi jenis tersebut sebelumnya, maka kami jadi tertarik untuk menguliknya mencari info kesana kemari," jelasnya.

Namun info yang didapatkannya tersebut tidak mencukupi rasa penasarannya karena rata-rata dari mereka mengatakan baru melihatnya kali itu. Tetapi, dari informasi tersebut juga menambah keyakinannya kalau beras tersebut memang benar-benar berusia berabad-abad silam. Ke-160 butir beras itu pun kemudian dipilah-pilah, hingga terpilihlah 120 butir yang dianggap sempurna untuk ditumbuhkan kembali.

Penyemaian pun dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan menggunakan media kapas yang dilengkapi dengan hormon pertumbuhan, dan yang kedua, dengan cara membungkus butir padi tersebut dengan kulit gabah rojolele. Kulit gabah tersebut dimaksudkan sebagai cadangan nutrisi beras yang akan ditumbuhkan.

Dari 120 butir beras, yang berhasil berkecambah hanya sekitar 88 butir dan selanjutnya hanya tersisa 7 bibit yang bertahan sampai panen pertama dilakukan, yaitu 5,5 bulan kemudian dengan tinggi batang 130 sentimeter, 2 buah anakan dengan malai yang berukuran 22 sentimeter dan hasil panen yang berupa biji beras merah putih berjumlah sekitar 2400 butir. "Selama penumbuhkembangan padi tersebut tidak ada perlakuan khusus yang diberikan, media pembesar padi setelah disemaikan juga hanya dalam bak dan tanah subur biasa dengan kedalaman tanam sekitar 30 cm. Mungkin karena suhu di Kebon Agung, Sleman, tempat proses penanaman ini juga mendukung," ungkapnya.

Mahasiswa Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian UMY ini juga menjelaskan, peluncuran RI-1 ini sebenarnya telah dilakukan 13 Agustus 2006 lalu, di Alun-Alun Utara, Jogja, yang ditandai dengan pembagian masing-masing 7 butir padi hasil panen pertama kepada 12 petani yang berasal dari tempat yang berbeda-beda dengan maksud untuk dikembangkan. "Sebagian lagi kami simpan untuk dikembangkan kembali," tambahnya.

Mengenai rasanya, di tengah pertemuannya dengan para pimpinan Fakultas Pertanian UMY, Sabtu lalu (7/10), Hartanto mengakui belum bisa memastikan kelezatannya. Tetapi dia mempunyai keyakinan bahwa beras tersebut mempunyai kualitas tinggi. "Usianya saja sudah berabad-abad lalu, terus ditemukan di tempat yang dianggap sakral yang digunakan untuk ritual tertentu sebagai persembahan, biasanya sesuatu benda yang digunakan sebagai persembahan mesti berkualitas yang terbaik," imbuhnya.

Diakhir pembicaraannya Hartanto mengatakan keinginannya untuk terus mengembangkan padi RI-1 tersebut sampai akhirnya menjadi beras yang bisa diunggulkan dan bisa dikonsumsi secara massal. "Membangkitkan sesuatu yang hampir punah merupakan suatu kebanggaan," katanya.

http://trulyjogja.com/index.php?action=news.detail&cat_id=8&news_id=816

P1060456Hanya ditanam di halaman depan rumah Mas Adjikoesoemo, berumur sekitar seminggu.

Cost recovery minyak 2007

Saturday, January 26th, 2008

The Jakarta Post edisi 24 Januari 2008 (hal.13, dengan judul: Govt pays $8.3b in cost recovery) memberitakan cost recovery operator blok minyak untuk tahun 2007. Makin kelihatan "belang" Pertamina. Perusahaan minyak "plat merah" ini menerima pembayaran terbesar dari Pemerintah, yakni 1,9 miliar dollar AS. Padahal produksinya cuma 146 ribu barrel/hari.

Sementara itu, Chevron hanya memperoleh pembayaran 1,1 miliar dollar AS, dengan produksi 450 ribu barrel.

Berarti, Chevron hanya dapat pembayaran 57 persen dari yang didapat Pertamina; padahal produksinya 3 kali lipat dari produksi Pertamina.

Sungguh penghamburan uang rakyat yang sia-sia.

Informasi terkait bisa dilihat di posting terdahulu dengan judul: Perkembangan terbaru migas.

Living in Music (by Nabila Basri)

Thursday, January 17th, 2008
Dsc01290_1

Music is the melody inside your heart

Music is the harmony inside your soul

Everyone wants to be a part

A part of the musical soul

Express your feelings with words

They will turn out to great lyrics

Oh, the sound of the birds

They would not sound like a T-rex

Humming all the tunes of the song

Live it all you dream

It will last really long

They will taste a lot like ice-cream

Whenever you hear sounds

It is called music

If Gathering water to rain is the hobby of clouds

Then musicians’ job is making a lyric

Music makes a beautiful soul

It makes all of you cry with tears

We all want to try to bowl

Let’s make a song with our peers

Music is everywhere

This day has inspired me

To make crafty music

Anywhere, even under a tree

The dolphins trying to speak

Their sounds are a fanatic

They sound really great

And it makes you a special person

Now you know that music is beautiful

You live in music

There is no other way to live

So music is everywhere

It lives just like us

December 27, 2007

Dedicated to: My dad, my mom, me                              

Optimistik selalu

Wednesday, January 16th, 2008

"You ask, what is our aim? I can answer in one word. It is victory! Victory at all costs! Victory in spite of all terrors. Victory, however long and hard the road may be, for without victory there is no survival." [Winston Churchill]

***

Kemenangan membuat kita harus lebih merunduk, kekalahan mendorong kita untuk menggapai kemenangan berikutnya. Semoga kita ikhlas menerima apapun yang diberikan-Nya. [Faisal Basri]

***

There are victories of the soul and spirit. Sometimes, even if you lose, you win. [Anonym]

***

In the long run the pessimist may be proved right, but the optimist has a better time on the trip. [Anonym]

***

Bung Hatta: Bergerak

Wednesday, January 16th, 2008

Suatu hari bulan Desember 1933 Bung Hatta menulis:

"Hati orang pergerakan tidak boleh digoda oleh penyesalan dan umpatan. Ia harus tetap tertuju senantiasa kepada cita-cita. Berjuang dalam pergerakan mencapai Indonesia merdeka adalah seumpama mendaki gunung tinggi. Siapa tidak kuat tinggal di belakang, siapa yang lemah jatuh di jalan. Dan pada tiap-tiap puncak yang tercapai, barisan yang berangsur tipis diperkuat kembali oleh pujangga (pejuang, FB) baru yang datang menggabungkan diri. Demikianlah gambar perjuangan kita yang tidak berkeputusan. Manusia berganti, pergerakan bertambah maju dan bertambah dekat dengan yang dituju."

Wawancara Menjelang Soeharto “Rontok”

Wednesday, January 16th, 2008


Tempo Interaktif, Edisi 45/02 - 10/Jan/1998
Analisa & Peristiwa

Wawancara Faisal Basri:
Kemampuan Soeharto Sudah Tidak Bisa Diandalkan


Di tengah krisis moneter yang akut, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 1998/99 naik menjadi Rp 133 trilyun atau sekitar 32 persen dari anggaran tahun lalu. Pemerintah tampaknya optimis target itu bisa tercapai. Bahkan, nilai rupiah yang kini di antara Rp 8000-9000 sedollar, dicanangkan untuk kembali kepada angka Rp 4000 sedollar.

Menurut Ketua Jurusan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi UI, Faisal H. Basri, anjloknya rupiah atas dollar AS setelah pengumuman RAPBN disebabkan pemerintah tidak konsisten dengan syarat-syarat yang diajukan oleh badan moneter internasional (IMF). "Syarat surplus anggaran satu persen dari IMF tidak kelihatan di dalam RAPBN, sehingga investor asing dan fund manager asing menilai Indonesia tidak sungguh-sungguh mematuhi syarat IMF," kata Faisal.

Tentang kenaikan anggaran yang mencapai 32 persen, menurut Faisal, tidak realistis dengan kondisi perekonomian sebenarnya. "Negara lain yang mengalami krisis yang tidak separah Indonesia saja melakukan pemotongan anggaran. Tapi pemerintah malah menaikkan anggaran," ujarnya.

Berikut petikan wawancara TEMPO Interaktif dengan pengamat sekaligus peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat UI (LPEM), Kamis 8 Januari 1998, di Gedung LPEM UI Salemba, Jakarta.


Benarkah RAPBN 98/99 tidak realistis dengan kondisi yang sebenarnya?

Pak Harto bilang kenaikan anggaran yang mencapai 32 persen itu diakibatkan kenaikan kurs dollar AS. Penerimaan RAPBN yang berbentuk dollar AS adalah migas, pinjaman luar negeri, bea masuk, dan pajak ekspor. Total nilai dari empat komponen ini sebesar Rp 44 trilyun atau 44, 2 persen.

Empat komponen itu menyumbang 13,5 persen dari kenaikan yang 32 persen. Kalau kenaikan anggaran disebabkan akibat kenaikan kurs maka RAPBN hanya naik sebesar 13, 5 persen. Tapi kenaikan yang bukan disebabkan oleh kenaikan tukar kurs mencapai 18,6 persen. Ini berarti mengalami kenaikan dibandingkan dengan APBN tahun lalu yang hanya naik 11 persen. Sementara Malaysia yang mengalami krisis tidak separah dengan Indonesia dan tidak meminta bantuan IMF, memotong anggaran hingga 18 persen. Sedangkan Indonesia malah mengalami kenaikan sebesar 32 persen.

Kenaikan itu sangat tidak realistis di tengah krisis yang terjadi. Katanya pemerintah mau mengecangkan ikat pinggang, tapi anggaran malah naik. Semua pos pengeluaran dalam RAPBN mengalami kenaikan. Hanya anggaran hukum dan pengawasan yang mengalami penurunan. Anehnya, hukum makin dianggap tidak penting di negeri ini.

Lalu di pos penerimaan, beban masyarakat yang harus disetor melalui pajak pertambahan nilai (PPN) naik hingga 13 persen. Artinya, rakyat harus membayar pajak yang sama dengan Liem Sioe Liong. Ini ‘kan tidak adil. Sementara pajak untuk orang-orang kaya melalui pajak penghasilan (PPh) diturunkan. Tapi bukan berarti PPh harus dinaikkan, tapi kenaikannya harus proporsional agar tercermin rasa keadilan.

Konyolnya, dari pos pengeluaran belanja barang dalam negeri mengalami kenaikan hingga 18 persen. Ini sama saja tidak mencerminkan penghematan. Jangan-jangan kenaikan itu untuk membeli mobil Timor.

Sedangkan penetapan kurs sebesar Rp 4.000 menurut saya sangat tidak rasional. Sebab tidak ada yang ditawarkan oleh pemerintah untuk mencapai kurs Rp 4.000. Kurs Rp 4000 mungkin saja bisa dicapai, asalkan ada yang ditawarkan oleh pemerintah untuk memperbaiki keadaan ini. Tapi ‘kan nggak ada yang ditawarkan oleh Soeharto.

Menurut Anda apakah pemerintah akan melakukan reformasi ekonomi dan restrukturisasi sesuai yang diucapkan Pak Harto dalam pengantar RAPBN?

Dari dulu juga sudah bilang begitu, tapi apa buktinya. Semua orang ingin bukti hitam-putih.

Laksamana Sukardi bilang, Indonesia mengalami pertumbuhan nol persen saja sudah bagus, bahkan banyak pengamat yang memprediksikan pertumbuhan ekonomi negatif. Sementara pemerintah menetapkan pertumbuhan empat persen, menurut Anda apakah target itu bisa dicapai?

Target empat persen itu kehendak atau harapan pemerintah. Pertumbuhan sebesar itu adalah angka yang paling minimum agar tidak terjadi krisis sosial. Kalau pertumbuhan nol persen berarti ada pengangguran baru sebasar 2, 4 juta orang dari orang yang semula bekerja menjadi tidak bekerja. Belum lagi orang yang baru lulus dan mau bekerja, serta penganggur yang sudah ada. Artinya akan ada penganggur 10 juta orang. Nah, pertimbangan sosial politik menghendaki pertumbuhan tidak lebih dari empat persen. Dengan target pertumbuhan ini saja, sudah ada penganggur baru sebesar 1, 2 juta orang.

Jadi target empat persen mustahil dicapai?

Target empat persen dengan penetapan kurs Rp 4.000 sebenarnya bisa dicapai, asalkan langkah-langkah reformasi yang dilakukan pemerintah jelas, transparan dan terarah. Tapi dalam kondisi dimana tidak ada yang ditawarkan oleh pemerintah dan sosok Pak Harto yang tidak mungkin mengawali target pertumbuhan itu, angka empat persen itu tidak mungkin dicapai. Tapi, kalau minggu depan ada langkah yang bagus dan Pak Harto tidak mau dipilih kembali, saya kira target empat persen bisa dicapai.

Bagaimana dengan subsidi BBM?

Kita tahu bahwa IMF menargetkan anggaran harus surplus sebesar satu persen atau sama dengan Rp 6 trilyun. Nah, itu nggak tercantum dalam anggaran. Saya menduga angka surplus satu persen itu disembunyikan di subsidi BBM sebesar Rp 10 trilyun atau pada subsidi lainnya sebesar Rp 5 trilyun. Jadi hampir dipastikan selesai sidang umum, harga BBM akan naik. Akibat kenaikan harga BBM, maka subsidi akan berkurang dan akan terjadi surplus. Tapi kalau BBM naik, itu tidak adil untuk rakyat. Makanya, RAPBN ini tricky dan sangat politis. Ini mencerminkan cara bernegara yang tidak sehat.

Jika pemerintah menaikkan harga BBM, bukankah itu akan menyebabkan terjadinya inflasi. Padahal dalam anggaran 98/99 pemerintah mematok angka inflasi sebesar sembilan persen?

Subsidi merupakan cara yang tidak dibolehkan oleh IMF. Nah, kelihatannya pemerintah minta waktu hingga sidang umum. Sebab kalau Indonesia ingin dapat uang dari IMF, syaratnya harus ada surplus anggaran. Tapi sekali lagi saya katakan, ini tidak adil karena pemerintah masih menyembunyikan angka.

Kalau harga BBM dan listrik naik, bukankah beban rakyat makin berat?

BBM memang harus naik. Yang menikmati tarif listrik selama ini adalah orang kaya. Lihat saja, rakyat paling-paling hanya menikmati listrik 200-400 watt, selebihnya dinikmati orang kaya. Memang kenaikan BBM dan tarif listrik dampaknya psikologis. Tapi ada caranya agar BBM naik, ongkos transportasi tidak naik. Caranya, dengan memberikan subsidi dengan membebaskan pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai.

Bagaimana dengan patokan harga minyak 17 dollar AS perbarel, bukankah harga ini bisa berubah jika minyak Irak disetujui oleh PBB untuk dijual sehingga mempengaruhi harga minyak dunia?

Tahun depan, saya kira dengan harga 17 dollar AS perbarel aman. Sebab tidak ada faktor fundamental yang mempengaruhi harga minyak naik atau turun. Kalaupun terjadi negosiasi antara Irak dengan PBB, harga minyak akan turun antara 16, 5 hingga 17, 5 dollar AS perbarel. Angka 17 dollar AS perbarel dalam RAPBN, sangat realistis.

Target kenaikan 13 persen dari pajak pertambahan nilai apakah bisa tercapai di tengah krisis dimana banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan ?

Menurut saya, seharusnya pajak penghasilan seharusnya turun 15 persen dan pajak pertambahan nilai turun juga. Nah, apakah target 13 persen bisa dicapai dari pajak pertambahan nilai, jawabnya bisa. Caranya dengan tangan besi. Karena pemerintah masih gampang memencet pundi-pundi yang bisa dimainkan. Artinya masih ada celah untuk menarik pajak.

Apa saja celah yang bisa dimasuki pajak?

Misalnya, 200 orang terkaya menyumbang sekitar 50 persen dari pajak penghasilannya. Itu kan gampang. Lalu seperti saya yang tidak punya NPWP (nomor pokok wajib pajak), ‘kan banyak orang yang seperti saya. Meraka takut mengejar kita, karena kalau kita bayar pajak, kita akan menuntut hak kita akan demokratisasi. Tapi di tengah krisis ekonomi seperti sekarang, target kenaikan PPN tidak tepat. Masa di tengah krisis perekonomian pungutan makin banyak.

Bagaimana dengan beban pembayaran utang Indonesia yang mencapai Rp 30 trilyun dalam RAPBN 98/99?

Seharusnya pemerintah kita mengambil langkah penjadwalan kembali utang-utangnya. Karena rescheduling utang pemerintah lebih mudah ketimbang utang swasta. Semua negara donor, Bank Dunia, IDB, dan lainnya, akan maklum. Paling tidak setengah dari utang pemerintah bisa dijadwalkembali. Kalau ini dilakukan akan bisa menambah anggaran pembangunan daerah yang dapat menciptakan gairah perekonomian rakyat. Tapi hal ini tidak terlihat dari RAPBN 98/99 ini. Menurut saya ini adalah anggaran terburuk dalam sejarah orde baru. Indonesia sudah bad boy, bukan good boy lagi.

Anda pernah mengatakan RAPBN 98/99 akan turun menjadi Rp 90 trilyun, tapi nyatanya malah naik 32 persen dan pemerintah tetap optimis. Bagaimana Anda melihat kemampuan kepemimpinan Pak Harto dengan rancangan anggaran sebesar itu di tengah krisis?

Ini semua adalah cerminan dari ketidakjelasan visi dan omongan pemerintah. Tidak sesuai juga dengan kenyataan. Mereka bilang kencangkan ikat pinggang, nyatanya pos pengeluaran malah naik. Malah pos pembinaan hukum turun. Atau memang sengaja diturunkan agar hukum kita amburadul. Sebenarnya dengan anggaran Rp 90 trilyun, kita bisa berhemat dari pos Pph dan PPN. Sebab di negara-negara yang mengalami krisis terjadi pemotongan pajak. Seperti yang dilakukan Jepang. Sehingga pertumbuhan ekonomi kembali bergairah.

Bagaimana dengan konsistensi pemerintah melakukan pengencangan ikat pinggang, nyatanya proyek listrik Tanjung Jati milik Mbak Tutut dan proyek pengilangan minyak APRI milik Bambang Trihatmodjo, tetap dilanjutkan?

Ini adalah cermin ketidakjelasan visi mau dibawa ke mana republik ini. Kalau sudah begini keadaanya bagaimana kita bisa ke luar dari krisis. Kondisi seperti sekarang, dibutuhkan pemimpin yang bisa menggalang semua potensi yang ada dan membawa bangsa ini ke luar dari krisis. Nah, Soeharto sudah tidak bisa. Buktinya, pengamat dia musuhi, Petisi 50 nggak dianggap, dan orang yang nggak setuju dengan dia dijauhi.

Apakah kepemimpinan Pak Harto sudah tidak mampu untuk melakukan perbaikan?

Ya.

Apakah bisa dijamin jika Pak Harto diganti akan ada perbaikan ekonomi?

Paling tidak ada peluang bagi bangsa Indonesia untuk melakukan pengaturan kembali kekuatan politik untuk menghasilkan semangat baru. Semua ini tidak mungkin dihasilkan dalam era Soeharto. Karena Soeharto sudah tua, kemampuannya terbatas, ditambah dengan kepentingan keluarganya yang semakin merajalela. Dan terbukti, kalangan keluarganya banyak dikecualikan dalam perbaikan ekonomi saat ini.

Apakah Pak Harto akan melakukan reformasi ekonomi sesuai dengan pernyataannya di depan anggota DPR, misalnya dengan mencabut monopoli atau proteksi?

Tidak. Artinya, dia tidak akan melakukan reformasi atau deregulasi untuk ke luar dari krisis. Reformasi mungkin saja dilakukan, tapi sangat marjinal sekali. Karena dia akan tetap mempertahankan status quo yang merupakan basis politik untuk melegitimasi kekuasaannya. Menurut Harold Crouch, legitimasi itu dicapai dari uang, bukan dari kharismanya sebagai pemimpin.

Mungkinkah untuk mempertahankan kekuasaannya Pak Harto akan melakukan pencabutan monopoli?

Sifatnya akan marjinal. Dia akan mencabut beberapa monopoli dan akan mempolitisasikan seolah-olah ada pencabutan monopoli, nyatanya tidak. Ini sama saja tidak menyelesaikan masalah. Kalaupun dia terpilih kembali menjadi presiden, menteri-menterinya akan lebih jelek dari yang sekarang. Sebab, dia makin hari makin rapuh dan butuh banyak dukungan serta kompensasi. Bahayanya, dia tidak akan memilih menteri berdasarkan kompetensi, tapi kompensasi.

Setelah pengumunan RAPBN, rupiah makin melorot, menurut Anda apa yang diinginkan para fund manager dan investor asing ?

Para fund manager dan investor asing melihat syarat yang diajukan IMF bahwa anggaran harus surplus satu persen tidak kelihatan di dalam RAPBN. Mereka menilai Indonesia tidak mematuhi syarat-syarat IMF. Tapi, kalau surplus dimasukkan ke dalam RAPBN, salah juga karena anggaran harus berimbang. Jadi RAPBN ini tidak akan membawa dampak terhadap perbaikan rupiah.

Apakah ada kemungkinan DPR melakukan koreksi atas anggaran 98/99 yang diajukan oleh pemerintah?

Oh, ya. Walaupun ini mimpi, kita menginginkan DPR menekan anggaran dan meminta kepada pemerintah untuk mengeksplisitkan kapan BBM naik. Lalu, kalau kita mau surplus berapa persen dan dari mana. Ini harus transparan. Lalu meminta pemerintah untuk menjadwal kembali utang-utangnya.

ANY

Wawancara Menjelang Soeharto “Rontok”

Wednesday, January 16th, 2008


Tempo Interaktif, Edisi 45/02 - 10/Jan/1998
Analisa & Peristiwa

Wawancara Faisal Basri:
Kemampuan Soeharto Sudah Tidak Bisa Diandalkan


Di tengah krisis moneter yang akut, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 1998/99 naik menjadi Rp 133 trilyun atau sekitar 32 persen dari anggaran tahun lalu. Pemerintah tampaknya optimis target itu bisa tercapai. Bahkan, nilai rupiah yang kini di antara Rp 8000-9000 sedollar, dicanangkan untuk kembali kepada angka Rp 4000 sedollar.

Menurut Ketua Jurusan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi UI, Faisal H. Basri, anjloknya rupiah atas dollar AS setelah pengumuman RAPBN disebabkan pemerintah tidak konsisten dengan syarat-syarat yang diajukan oleh badan moneter internasional (IMF). "Syarat surplus anggaran satu persen dari IMF tidak kelihatan di dalam RAPBN, sehingga investor asing dan fund manager asing menilai Indonesia tidak sungguh-sungguh mematuhi syarat IMF," kata Faisal.

Tentang kenaikan anggaran yang mencapai 32 persen, menurut Faisal, tidak realistis dengan kondisi perekonomian sebenarnya. "Negara lain yang mengalami krisis yang tidak separah Indonesia saja melakukan pemotongan anggaran. Tapi pemerintah malah menaikkan anggaran," ujarnya.

Berikut petikan wawancara TEMPO Interaktif dengan pengamat sekaligus peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat UI (LPEM), Kamis 8 Januari 1998, di Gedung LPEM UI Salemba, Jakarta.


Benarkah RAPBN 98/99 tidak realistis dengan kondisi yang sebenarnya?

Pak Harto bilang kenaikan anggaran yang mencapai 32 persen itu diakibatkan kenaikan kurs dollar AS. Penerimaan RAPBN yang berbentuk dollar AS adalah migas, pinjaman luar negeri, bea masuk, dan pajak ekspor. Total nilai dari empat komponen ini sebesar Rp 44 trilyun atau 44, 2 persen.

Empat komponen itu menyumbang 13,5 persen dari kenaikan yang 32 persen. Kalau kenaikan anggaran disebabkan akibat kenaikan kurs maka RAPBN hanya naik sebesar 13, 5 persen. Tapi kenaikan yang bukan disebabkan oleh kenaikan tukar kurs mencapai 18,6 persen. Ini berarti mengalami kenaikan dibandingkan dengan APBN tahun lalu yang hanya naik 11 persen. Sementara Malaysia yang mengalami krisis tidak separah dengan Indonesia dan tidak meminta bantuan IMF, memotong anggaran hingga 18 persen. Sedangkan Indonesia malah mengalami kenaikan sebesar 32 persen.

Kenaikan itu sangat tidak realistis di tengah krisis yang terjadi. Katanya pemerintah mau mengecangkan ikat pinggang, tapi anggaran malah naik. Semua pos pengeluaran dalam RAPBN mengalami kenaikan. Hanya anggaran hukum dan pengawasan yang mengalami penurunan. Anehnya, hukum makin dianggap tidak penting di negeri ini.

Lalu di pos penerimaan, beban masyarakat yang harus disetor melalui pajak pertambahan nilai (PPN) naik hingga 13 persen. Artinya, rakyat harus membayar pajak yang sama dengan Liem Sioe Liong. Ini ‘kan tidak adil. Sementara pajak untuk orang-orang kaya melalui pajak penghasilan (PPh) diturunkan. Tapi bukan berarti PPh harus dinaikkan, tapi kenaikannya harus proporsional agar tercermin rasa keadilan.

Konyolnya, dari pos pengeluaran belanja barang dalam negeri mengalami kenaikan hingga 18 persen. Ini sama saja tidak mencerminkan penghematan. Jangan-jangan kenaikan itu untuk membeli mobil Timor.

Sedangkan penetapan kurs sebesar Rp 4.000 menurut saya sangat tidak rasional. Sebab tidak ada yang ditawarkan oleh pemerintah untuk mencapai kurs Rp 4.000. Kurs Rp 4000 mungkin saja bisa dicapai, asalkan ada yang ditawarkan oleh pemerintah untuk memperbaiki keadaan ini. Tapi ‘kan nggak ada yang ditawarkan oleh Soeharto.

Menurut Anda apakah pemerintah akan melakukan reformasi ekonomi dan restrukturisasi sesuai yang diucapkan Pak Harto dalam pengantar RAPBN?

Dari dulu juga sudah bilang begitu, tapi apa buktinya. Semua orang ingin bukti hitam-putih.

Laksamana Sukardi bilang, Indonesia mengalami pertumbuhan nol persen saja sudah bagus, bahkan banyak pengamat yang memprediksikan pertumbuhan ekonomi negatif. Sementara pemerintah menetapkan pertumbuhan empat persen, menurut Anda apakah target itu bisa dicapai?

Target empat persen itu kehendak atau harapan pemerintah. Pertumbuhan sebesar itu adalah angka yang paling minimum agar tidak terjadi krisis sosial. Kalau pertumbuhan nol persen berarti ada pengangguran baru sebasar 2, 4 juta orang dari orang yang semula bekerja menjadi tidak bekerja. Belum lagi orang yang baru lulus dan mau bekerja, serta penganggur yang sudah ada. Artinya akan ada penganggur 10 juta orang. Nah, pertimbangan sosial politik menghendaki pertumbuhan tidak lebih dari empat persen. Dengan target pertumbuhan ini saja, sudah ada penganggur baru sebesar 1, 2 juta orang.

Jadi target empat persen mustahil dicapai?

Target empat persen dengan penetapan kurs Rp 4.000 sebenarnya bisa dicapai, asalkan langkah-langkah reformasi yang dilakukan pemerintah jelas, transparan dan terarah. Tapi dalam kondisi dimana tidak ada yang ditawarkan oleh pemerintah dan sosok Pak Harto yang tidak mungkin mengawali target pertumbuhan itu, angka empat persen itu tidak mungkin dicapai. Tapi, kalau minggu depan ada langkah yang bagus dan Pak Harto tidak mau dipilih kembali, saya kira target empat persen bisa dicapai.

Bagaimana dengan subsidi BBM?

Kita tahu bahwa IMF menargetkan anggaran harus surplus sebesar satu persen atau sama dengan Rp 6 trilyun. Nah, itu nggak tercantum dalam anggaran. Saya menduga angka surplus satu persen itu disembunyikan di subsidi BBM sebesar Rp 10 trilyun atau pada subsidi lainnya sebesar Rp 5 trilyun. Jadi hampir dipastikan selesai sidang umum, harga BBM akan naik. Akibat kenaikan harga BBM, maka subsidi akan berkurang dan akan terjadi surplus. Tapi kalau BBM naik, itu tidak adil untuk rakyat. Makanya, RAPBN ini tricky dan sangat politis. Ini mencerminkan cara bernegara yang tidak sehat.

Jika pemerintah menaikkan harga BBM, bukankah itu akan menyebabkan terjadinya inflasi. Padahal dalam anggaran 98/99 pemerintah mematok angka inflasi sebesar sembilan persen?

Subsidi merupakan cara yang tidak dibolehkan oleh IMF. Nah, kelihatannya pemerintah minta waktu hingga sidang umum. Sebab kalau Indonesia ingin dapat uang dari IMF, syaratnya harus ada surplus anggaran. Tapi sekali lagi saya katakan, ini tidak adil karena pemerintah masih menyembunyikan angka.

Kalau harga BBM dan listrik naik, bukankah beban rakyat makin berat?

BBM memang harus naik. Yang menikmati tarif listrik selama ini adalah orang kaya. Lihat saja, rakyat paling-paling hanya menikmati listrik 200-400 watt, selebihnya dinikmati orang kaya. Memang kenaikan BBM dan tarif listrik dampaknya psikologis. Tapi ada caranya agar BBM naik, ongkos transportasi tidak naik. Caranya, dengan memberikan subsidi dengan membebaskan pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai.

Bagaimana dengan patokan harga minyak 17 dollar AS perbarel, bukankah harga ini bisa berubah jika minyak Irak disetujui oleh PBB untuk dijual sehingga mempengaruhi harga minyak dunia?

Tahun depan, saya kira dengan harga 17 dollar AS perbarel aman. Sebab tidak ada faktor fundamental yang mempengaruhi harga minyak naik atau turun. Kalaupun terjadi negosiasi antara Irak dengan PBB, harga minyak akan turun antara 16, 5 hingga 17, 5 dollar AS perbarel. Angka 17 dollar AS perbarel dalam RAPBN, sangat realistis.

Target kenaikan 13 persen dari pajak pertambahan nilai apakah bisa tercapai di tengah krisis dimana banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan ?

Menurut saya, seharusnya pajak penghasilan seharusnya turun 15 persen dan pajak pertambahan nilai turun juga. Nah, apakah target 13 persen bisa dicapai dari pajak pertambahan nilai, jawabnya bisa. Caranya dengan tangan besi. Karena pemerintah masih gampang memencet pundi-pundi yang bisa dimainkan. Artinya masih ada celah untuk menarik pajak.

Apa saja celah yang bisa dimasuki pajak?

Misalnya, 200 orang terkaya menyumbang sekitar 50 persen dari pajak penghasilannya. Itu kan gampang. Lalu seperti saya yang tidak punya NPWP (nomor pokok wajib pajak), ‘kan banyak orang yang seperti saya. Meraka takut mengejar kita, karena kalau kita bayar pajak, kita akan menuntut hak kita akan demokratisasi. Tapi di tengah krisis ekonomi seperti sekarang, target kenaikan PPN tidak tepat. Masa di tengah krisis perekonomian pungutan makin banyak.

Bagaimana dengan beban pembayaran utang Indonesia yang mencapai Rp 30 trilyun dalam RAPBN 98/99?

Seharusnya pemerintah kita mengambil langkah penjadwalan kembali utang-utangnya. Karena rescheduling utang pemerintah lebih mudah ketimbang utang swasta. Semua negara donor, Bank Dunia, IDB, dan lainnya, akan maklum. Paling tidak setengah dari utang pemerintah bisa dijadwalkembali. Kalau ini dilakukan akan bisa menambah anggaran pembangunan daerah yang dapat menciptakan gairah perekonomian rakyat. Tapi hal ini tidak terlihat dari RAPBN 98/99 ini. Menurut saya ini adalah anggaran terburuk dalam sejarah orde baru. Indonesia sudah bad boy, bukan good boy lagi.

Anda pernah mengatakan RAPBN 98/99 akan turun menjadi Rp 90 trilyun, tapi nyatanya malah naik 32 persen dan pemerintah tetap optimis. Bagaimana Anda melihat kemampuan kepemimpinan Pak Harto dengan rancangan anggaran sebesar itu di tengah krisis?

Ini semua adalah cerminan dari ketidakjelasan visi dan omongan pemerintah. Tidak sesuai juga dengan kenyataan. Mereka bilang kencangkan ikat pinggang, nyatanya pos pengeluaran malah naik. Malah pos pembinaan hukum turun. Atau memang sengaja diturunkan agar hukum kita amburadul. Sebenarnya dengan anggaran Rp 90 trilyun, kita bisa berhemat dari pos Pph dan PPN. Sebab di negara-negara yang mengalami krisis terjadi pemotongan pajak. Seperti yang dilakukan Jepang. Sehingga pertumbuhan ekonomi kembali bergairah.

Bagaimana dengan konsistensi pemerintah melakukan pengencangan ikat pinggang, nyatanya proyek listrik Tanjung Jati milik Mbak Tutut dan proyek pengilangan minyak APRI milik Bambang Trihatmodjo, tetap dilanjutkan?

Ini adalah cermin ketidakjelasan visi mau dibawa ke mana republik ini. Kalau sudah begini keadaanya bagaimana kita bisa ke luar dari krisis. Kondisi seperti sekarang, dibutuhkan pemimpin yang bisa menggalang semua potensi yang ada dan membawa bangsa ini ke luar dari krisis. Nah, Soeharto sudah tidak bisa. Buktinya, pengamat dia musuhi, Petisi 50 nggak dianggap, dan orang yang nggak setuju dengan dia dijauhi.

Apakah kepemimpinan Pak Harto sudah tidak mampu untuk melakukan perbaikan?

Ya.

Apakah bisa dijamin jika Pak Harto diganti akan ada perbaikan ekonomi?

Paling tidak ada peluang bagi bangsa Indonesia untuk melakukan pengaturan kembali kekuatan politik untuk menghasilkan semangat baru. Semua ini tidak mungkin dihasilkan dalam era Soeharto. Karena Soeharto sudah tua, kemampuannya terbatas, ditambah dengan kepentingan keluarganya yang semakin merajalela. Dan terbukti, kalangan keluarganya banyak dikecualikan dalam perbaikan ekonomi saat ini.

Apakah Pak Harto akan melakukan reformasi ekonomi sesuai dengan pernyataannya di depan anggota DPR, misalnya dengan mencabut monopoli atau proteksi?

Tidak. Artinya, dia tidak akan melakukan reformasi atau deregulasi untuk ke luar dari krisis. Reformasi mungkin saja dilakukan, tapi sangat marjinal sekali. Karena dia akan tetap mempertahankan status quo yang merupakan basis politik untuk melegitimasi kekuasaannya. Menurut Harold Crouch, legitimasi itu dicapai dari uang, bukan dari kharismanya sebagai pemimpin.

Mungkinkah untuk mempertahankan kekuasaannya Pak Harto akan melakukan pencabutan monopoli?

Sifatnya akan marjinal. Dia akan mencabut beberapa monopoli dan akan mempolitisasikan seolah-olah ada pencabutan monopoli, nyatanya tidak. Ini sama saja tidak menyelesaikan masalah. Kalaupun dia terpilih kembali menjadi presiden, menteri-menterinya akan lebih jelek dari yang sekarang. Sebab, dia makin hari makin rapuh dan butuh banyak dukungan serta kompensasi. Bahayanya, dia tidak akan memilih menteri berdasarkan kompetensi, tapi kompensasi.

Setelah pengumunan RAPBN, rupiah makin melorot, menurut Anda apa yang diinginkan para fund manager dan investor asing ?

Para fund manager dan investor asing melihat syarat yang diajukan IMF bahwa anggaran harus surplus satu persen tidak kelihatan di dalam RAPBN. Mereka menilai Indonesia tidak mematuhi syarat-syarat IMF. Tapi, kalau surplus dimasukkan ke dalam RAPBN, salah juga karena anggaran harus berimbang. Jadi RAPBN ini tidak akan membawa dampak terhadap perbaikan rupiah.

Apakah ada kemungkinan DPR melakukan koreksi atas anggaran 98/99 yang diajukan oleh pemerintah?

Oh, ya. Walaupun ini mimpi, kita menginginkan DPR menekan anggaran dan meminta kepada pemerintah untuk mengeksplisitkan kapan BBM naik. Lalu, kalau kita mau surplus berapa persen dan dari mana. Ini harus transparan. Lalu meminta pemerintah untuk menjadwal kembali utang-utangnya.

ANY

Nestapa Usaha Kecil

Monday, January 14th, 2008

Tulisan Analisis Ekonomi di Kompas, Senin, 14 Januari 2007 cukup banyak dapat tanggapan via SMS maupun email. Versi cetak artikel tersebut bisa diakses di: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0801/14/utama/4165208.htm. Data pendukung, seperti upah nominal buruh yang turun di industri-industri padat karya, bisa diakses di: http://faisalbasri.blogs.friendster.com/Ketenagakerjaan.ppt

Naskah aslinya ngalor-ngidul, merambah ke sektor pertaian juga, dengan sedikit sumpah serapah. Saya berjanji akan menulis persoalan pertanian dan kedaulatan pangan dalam tulisan tersendiri. (Terima kasih banyak kepada Kompas yang telah membuat tulisan saya jauh lebih halus dan sopan.)

Bagi yang tak mau repot mengakskes Kompas, bisa langsung menyimaknya di bawah ini:

Usaha Kecil Guncang

Krisis ekonomi 10 tahun silam meluluhlantakkan banyak perusahaan besar. Konglomerasi yang tumbuh subur di paruh kedua pemerintahan Orde Baru terbukti memiliki landasan yang rapuh.

Mereka besar dan menggurita karena banyak berutang dari dalam dan luar negeri, bergantung pada bahan baku impor, dan jago kandang karena pasar domestik diproteksi penguasa.

Akibatnya, ketika datang krisis, mereka tak bisa melepaskan diri dari belitan masalah kronis, dan lari kencang menjauh dari perangkap kebangkrutan.

Dalam kurun waktu singkat, banyak dari mereka segar bugar kembali, bahkan telah menjelma menjadi kekuatan yang jauh lebih besar ketimbang pada masa prakrisis.

Aset-aset lama mereka kuasai kembali dengan tebusan sangat murah setelah "dicuci bersih" di Badan Penyehatan Perbankan Nasional sehingga terbebas dari berbagai jenis kewajiban kepada pihak ketiga.

Segala biaya yang dibenamkan untuk menyelamatkan perbankan dan pengusaha hingga kini telah mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun, yang semuanya ditanggung rakyat.

Sebagian lagi masuk ke relung-relung kekuasaan untuk menghirup darah segar baru lewat konsesi dan fasilitas baru dan bentuk-bentuk praktik pemburuan rente gaya lama.

Perekonomian Indonesia terhindar dari keterpurukan yang lebih dalam, antara lain, karena dua faktor. Pertama, topangan dari kegiatan ekonomi yang berbasis sumber daya alam, yang pada umumnya berada di luar Jawa. Kedua, dinamika yang terjadi di dunia usaha kecil dan menengah serta sektor informal.

Kelompok inilah yang menyerap lebih dari 80 persen tenaga kerja. Mereka tak banyak berutang karena perbankan tak ramah kepada mereka.

Pemerintah jarang menyapa mereka, tak memberikan perlindungan sepatutnya, apalagi menggelontorkan fasilitas dan perlakuan istimewa sebagaimana dinikmati perusahaan kroni.

Bahkan, beberapa sektor usaha kecil justru bertambah lincah pada pascakrisis karena lepas dari ketergantungan pada perusahaan besar yang menikmati monopoli maupun monopsoni.

Kini, keadaan berbalik. Dinamika usaha kecil dan atau sektor informal meredup. Kekuatan yang tersisa lambat laun terkikis dari berbagai arah. Harga-harga bahan baku langsung (direct input) melambung.

Demikian pula dengan harga bahan baku tak langsung (indirect input), seperti listrik, gas, transportasi, dan biaya lain, baik siluman maupun resmi.

Di lain pihak, mereka kian tak leluasa menaikkan harga karena persaingan semakin ketat, termasuk harus menghadapi persaingan dari produk impor yang kian leluasa merambah pasar domestik. Ditambah lagi, belakangan ini daya beli masyarakat berpendapatan menengah ke bawah cenderung terseok-seok.

Subsidi lewat produsen 

Kecenderungan tersebut sangat kentara sejak tahun 2006, terutama di Jawa. Kemerosotan daya beli tercermin dari penurunan upah riil buruh tani di Jawa dan pekerja informal.

Pada tahun 2007 (berdasarkan data bulan Desember), dari tiga jenis kegiatan sektor informal, hanya upah riil buruh bangunan yang meningkat, itu pun hanya naik 0,75 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Ternyata kemerosotan upah riil sudah merembet ke sektor industri manufaktur, bahkan dengan kondisi yang lebih parah. Data terakhir menunjukkan, upah nominal di tiga jenis industri padat karya yang tersedia seluruhnya merosot. Ketiga industri tersebut adalah industri rokok, industri pakaian jadi, dan industri batu bata/ubin.

Dengan demikian, bisa kita bayangkan, betapa kemerosotan daya beli praktis telah terjadi merata di kalangan masyarakat berpendapatan rendah. Padahal, kelompok masyarakat inilah yang merupakan konsumen utama dari usaha-usaha kecil yang sekarang mengalami guncangan.

Kita harus memberikan perhatian khusus bagi usaha-usaha kecil yang terpukul karena imbas perkembangan harga pangan dan minyak mentah dunia. Tak sampai sebulan harga kedelai sudah melonjak 70 persen. Harga tepung terigu merangkak naik sebagai akibat dari kenaikan harga gandum yang dalam setahun terakhir telah naik lebih dari 100 persen.

Sangat tidak populer, memang, seandainya pemerintah membantu usaha-usaha kecil ini dengan mekanisme subsidi lewat produsen besar. Tapi, itulah langkah yang paling efektif dalam jangka pendek.

Pemerintah hanya mengawasi satu perusahaan saja. Jika perlu, pemerintah bisa menempatkan aparatnya di perusahaan itu.

Perusahaan yang diberikan amanat mengelola dana subsidi diikat dengan syarat untuk menekan harga sesuai kesepakatan.

Tanpa mekanisme demikian, kita akan menghadapi risiko kemerosotan industri dan usaha yang lebih meluas dan lebih parah. Upaya lain ialah dengan penghapusan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan bea masuk atau kedua pungutan ini ditanggung oleh negara.

Instrumen ini bisa diberlakukan secara fleksibel mengikuti perkembangan harga internasional, seperti penerapan pungutan ekspor untuk minyak sawit.

Jika kedua upaya tidak menghasilkan penurunan harga yang proporsional dengan kadar subsidi, penghapusan PPN, dan bea masuk, berarti permasalahan ada di tempat lain.

Berapa besar dana yang bisa ditoleransi untuk membantu usaha kecil? Pertanyaan demikian terlalu mengada-ada karena dana yang dibutuhkan niscaya tak seberapa jika dibandingkan dengan dana yang telah dibenamkan pemerintah untuk menyelamatkan para konglomerat dan perbankan nasional.

Kita punya potensi yang lebih dari memadai untuk melakukan upaya-upaya serupa dalam meningkatkan produksi kedelai, jagung, dan komoditas pertanian lainnya untuk mewujudkan kedaulatan pangan.

(Kompas, Senin, 14 Januari 2008, hal. 1 dan 15.)

Bincang-bincang dengan The Jakarta Post

Friday, January 11th, 2008

Faisal Basri: A study in humility


The Jakarta Post, Jakarta, September 24, 2002

Berni K. Moestafa

On Faisal Basri, modesty stands out like his trademark khaki trousers, his light-colored shirt and his leather sandals among other men in suits.

"Help yourself please," he said, pointing to a selection of tea and coffee, in the corner of his office while he prepared himself a bowl of instant noodles, "I don’t like how people here pamper someone just because he’s the dean."

Faisal actually deserves some pampering. It’s well over half past three in the afternoon and the dean of the Perbanas Business School had not had his lunch yet.

Earlier in the day, he joined a brainstorming session for new reporters at television station TV 7, gave a lecture on the Indonesian economy at Perbanas, then agreed to a quick interview which, he was not to know, turned out to last for over an hour.

Faisal is an economist. Outstanding economists exist, few however launch political attacks, and of those very few find power unattractive.

Last year, for instance, he called for an act of civil disobedience by ignoring regulations of politicians whom he blamed for neglecting the public, with their power games.

In 1997 before a crowd of rallying students, Faisal demanded Soeharto’s resignation when even political activists refrained to singling out the former strongman as hampering economic recovery.

Believing the struggle must go on after the Soeharto era, he helped found the National Mandate Party (PAN) and became its first secretary-general — a position so unlike him, as are the shoes he said he kept in his car for formal occasions.

"I never wanted to become a politician, that has never been my dream," he said. But when close friends asked him to join PAN, he did so. That was in 1998.

In January 2001, Faisal resigned over discontent with moves to change PAN’s open political platform into an Islamic one, not, he asserted, after someone challenged him at a public seminar to quit PAN.

"What I really like is teaching and doing research," he said.

Faisal hails from the same school as brilliant economists like Sri Mulyani Indrawati, M. Ihksan and Chatib Basri.

A graduate of the University of Indonesia, he has never really left his alma mater since he first enrolled there in 1978. He still teaches economics at the university.

"After graduating I just stayed on as a lecturer and a researcher. I didn’t even think about working somewhere else," Faisal said, adding he did once apply for a staff position with the United Nations but was turned down when he missed an interview.

He then held a research post at the University of Indonesia’s Institute for Economic and Social Research (LPEM) for 17 years.

From inside LPEM, he launched his criticism of the government’s economic policies that often hit the political establishment behind them as well.

He had no qualms about blasting the businesses of the Soeharto clan and his cronies, knowing well their empire was build on power rather than entrepreneurship.

Soeharto’s downfall in 1998 opened the way to uproot excessive state control over the market under the auspices of the International Monetary Fund (IMF).

Today Faisal airs his grief over unfair business competition, over the media and the country’s first antimonopoly watchdog, one of several IMF-backed products.

The Business Competition Supervisory Commission (KPPU) has become the referee in today’s ever tighter market, penalizing shady dealings of big corporations.

"The market is no saint, without regulations the big ones bury the small ones, the smart cheat the dumb, two big ones almost certainly means collusion," said Faisal, now also a KPPU member.

But between the Soeharto-style market control and the risk of free trade, Faisal goes for the middle ground. "It’s like a pendulum, swinging from one extreme to another, it isn’t good."

His down-to-earth insights are not merely pragmatism nurtured by years of toiling with economic figures at LPEM.

"What are the values I try to adhere to?" Faisal asked as he pondered a question on the meaning of life. "Quite simple, they are (the values from) the people nearest to me," he said, citing his parents first.

His family, he said, was rather poor but not without dignity, which strikes one as especially hard, since his relatives belonged to the upper crust of society during the late sixties.

After all, his grandmother’s elder brother was Adam Malik, the venerable foreign minister and vice president during that time.

But while Adam might have set the mark of his family’s social status, he also taught them to be humble.

Faisal recalled how the former vice president gave attention to family members who were not as well-off as their well-to-do relatives.

"I look at Adam Malik’s modesty, how he taught our family the true meanings of family values, being non-discriminative," he said.

Adam’s teachings, in the most obvious form, have resurfaced in Faisal’s unpretentious dressing style. It is from within him though that these values serve the country best.