Cost recovery minyak 2007
The Jakarta Post edisi 24 Januari 2008 (hal.13, dengan judul: Govt pays $8.3b in cost recovery) memberitakan cost recovery operator blok minyak untuk tahun 2007. Makin kelihatan "belang" Pertamina. Perusahaan minyak "plat merah" ini menerima pembayaran terbesar dari Pemerintah, yakni 1,9 miliar dollar AS. Padahal produksinya cuma 146 ribu barrel/hari.
Sementara itu, Chevron hanya memperoleh pembayaran 1,1 miliar dollar AS, dengan produksi 450 ribu barrel.
Berarti, Chevron hanya dapat pembayaran 57 persen dari yang didapat Pertamina; padahal produksinya 3 kali lipat dari produksi Pertamina.
Sungguh penghamburan uang rakyat yang sia-sia.
Informasi terkait bisa dilihat di posting terdahulu dengan judul: Perkembangan terbaru migas.
February 3rd, 2008 at 4:55 am
Saya dan beberapa rekan sebagai pekerja Pertamina juga merasa janggal terhadap cost-recovery ini, pasti ada yang salah. Walaupun direksi bisa berdalih bahwa saat ini Pertamina sedang melakukan investasi besar-besaran (termasuk yg di Bojonegoro bersama Exxon), tapi angka 2x lipat dari Chevron tetap tidak masuk akal.
February 4th, 2008 at 7:40 am
Kalau perbedaan mencolok hanya terjadi 1-2 tahun saja, mungkin bisa ditoleransikan. Namun, pola ini sudah berlangsung lama, jadi masalahnya bersifat struktural. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa 93 persen produksi nasional berasal dari ladang-ladang tua, yang kontraknya sebelum tahun 1990. Jadi perbandingannya sudah apple to apple. Dugaan saya bukan karena Pertamina menggunakan teknologi yang usang dan kalah bersaing dari segi kemampuan, tapi karena Pertamina dijadikan bancakan banyak kepentingan. Jadi mereka-mereka itulah yang harus diperangi.