Riwayat Singkat Beras Merah-Putih
Walaupun hanya tiga butir padi yang diperlihatkan oleh Ir. Gatot Supangkat, MP., Dosen Fakultas Pertanian UMY, cukup mencengangkan dengan warnanya yang lain dari biasanya. Warna yang sama dengan bendera kebangsaan Indonesia merah putih. Sepintas orang akan berfikir bahwa warna tersebut didapatkan dari hasil perkawinan beras merah dan beras putih. Tetapi, jauh dari dugaan, warna tersebut sebenarnya warna natural, sebagaimana biasa berasal dari padi yang tumbuh secara normal.
Dituturkan D. Hartanto, sang pengembangbiak beras dwiwarna tersebut, beras yang kemudian diberinama RI-1 merupakan beras yang berasal dari sekitar abad 12 silam. Bersama temannya Adjikoesoemo (Sarjana Filsafat UGM), Hartanto mendapatkan butiran padi tersebut dari penduduk yang menemukannya di reruntuhan candi yang berlokasi di kawasan Sleman 16 Februari lalu. "Padi yang diserahkan tersebut hanya berjumlah 160 biji. Semula kami tak percaya kalau itu adalah beras jaman dulu, kami belum pernah melihat padi jenis tersebut sebelumnya, maka kami jadi tertarik untuk menguliknya mencari info kesana kemari," jelasnya.
Namun info yang didapatkannya tersebut tidak mencukupi rasa penasarannya karena rata-rata dari mereka mengatakan baru melihatnya kali itu. Tetapi, dari informasi tersebut juga menambah keyakinannya kalau beras tersebut memang benar-benar berusia berabad-abad silam. Ke-160 butir beras itu pun kemudian dipilah-pilah, hingga terpilihlah 120 butir yang dianggap sempurna untuk ditumbuhkan kembali.
Penyemaian pun dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan menggunakan media kapas yang dilengkapi dengan hormon pertumbuhan, dan yang kedua, dengan cara membungkus butir padi tersebut dengan kulit gabah rojolele. Kulit gabah tersebut dimaksudkan sebagai cadangan nutrisi beras yang akan ditumbuhkan.
Dari 120 butir beras, yang berhasil berkecambah hanya sekitar 88 butir dan selanjutnya hanya tersisa 7 bibit yang bertahan sampai panen pertama dilakukan, yaitu 5,5 bulan kemudian dengan tinggi batang 130 sentimeter, 2 buah anakan dengan malai yang berukuran 22 sentimeter dan hasil panen yang berupa biji beras merah putih berjumlah sekitar 2400 butir. "Selama penumbuhkembangan padi tersebut tidak ada perlakuan khusus yang diberikan, media pembesar padi setelah disemaikan juga hanya dalam bak dan tanah subur biasa dengan kedalaman tanam sekitar 30 cm. Mungkin karena suhu di Kebon Agung, Sleman, tempat proses penanaman ini juga mendukung," ungkapnya.
Mahasiswa Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian UMY ini juga menjelaskan, peluncuran RI-1 ini sebenarnya telah dilakukan 13 Agustus 2006 lalu, di Alun-Alun Utara, Jogja, yang ditandai dengan pembagian masing-masing 7 butir padi hasil panen pertama kepada 12 petani yang berasal dari tempat yang berbeda-beda dengan maksud untuk dikembangkan. "Sebagian lagi kami simpan untuk dikembangkan kembali," tambahnya.
Mengenai rasanya, di tengah pertemuannya dengan para pimpinan Fakultas Pertanian UMY, Sabtu lalu (7/10), Hartanto mengakui belum bisa memastikan kelezatannya. Tetapi dia mempunyai keyakinan bahwa beras tersebut mempunyai kualitas tinggi. "Usianya saja sudah berabad-abad lalu, terus ditemukan di tempat yang dianggap sakral yang digunakan untuk ritual tertentu sebagai persembahan, biasanya sesuatu benda yang digunakan sebagai persembahan mesti berkualitas yang terbaik," imbuhnya.
Diakhir pembicaraannya Hartanto mengatakan keinginannya untuk terus mengembangkan padi RI-1 tersebut sampai akhirnya menjadi beras yang bisa diunggulkan dan bisa dikonsumsi secara massal. "Membangkitkan sesuatu yang hampir punah merupakan suatu kebanggaan," katanya.
http://trulyjogja.com/index.php?action=news.detail&cat_id=8&news_id=816