Leo Kristi manggung
Sabtu kemarin adik saya kirim SMS, beritahukan Leo Kristi akan manggung di Warung Apresiasi Seni (wapres) Bulungan, minggu malam. Saya tak lewatkan kesempatan ini. Setelah memenuhi kewajiban nulis untuk Kompas Senin besok, dan makan malam dengan anak-anak, saya meluncur ke Bulungan. Tak apalah walau sangat terlambat. Saya masih bisa menikmati cukup banyak lagu yang sangat saya senangi sejak SMA.
Di masa lalu, ke mana pun Leo konser di Jakarta ini, hampir selalu saya hadiri. Semua lagunya saya suka, seperti juga semua lagu Abah Iwan Abdurrahman dan Bob Dylan.
Saya menyenangi ketiga seniman ini karena kekuatan liriknya. Leo banyak cerita tentang nestapa negeri, kritik sosial yang teramat halus. Misalnya lagu Dari Desa yang bercerita tentang petani, pabrik penggilingan beras, dan sebagainya di desa yang sudah tak lagi dimiliki oleh orang desa. "…. tapi bukan kami punya," itulah antara lain ungkapan Leo.
Ada lagi lagu, yang kalau tak salah, berjudul Pojok Kafe Simpang Lima. "Masihkah hangat seperti dulu?" tanya Leo ragu. Ini mungkin untuk menggambarkan modernisasi yang kian menepikan kehangatan warung kopi lesehan di Simpang Lima, Semarang.
Leo juga mengumandangkan pekik perjuangan, kecintaan terhadap tanah air, dan tentu juga tentang cinta anak manusia.
Malam ini, Leo lebih banyak memetik gitar, hanya sesekali "nyeletuk" di antara lantunan pencinta fanatiknya. Lagu terakhir yang ia nyanyikan ialah Suara Nelayan, dengan hentakan-hentakannya yang khas.
Konser rakyat Leo Kristi ternyata masih hidup…
February 17th, 2008 at 7:31 pm
Bang…emang Leo Kristi lagunya pernah membuming ya???heheheh..aku kok g pernah denger ya…lagunya titik puspa aku tau banyak…tp lagunya leo kok g pernah tau ya…heheheh…maaf
February 18th, 2008 at 7:15 am
Kalau pemerhati dan penikmat lagu rakyat di tahun 70-an dan 80-an, niscaya kenal dengan ciptaan2 Leo. Mungkin krn orangnya angin2an dan sesuka hati, ia tak peduli populatitas. Sama mungkin dgn Iwan Abdurrahman yang ciptaan2nya lebih banyak dipopulerkan oleh Bimbo. Tapi, untuk Leo, lagu2nya setahu saja tak pernah dinyanyikan orang lain dlm album.
Karya Leo mungkin tak sesuai dgn selera “pasar”, jadi ia tersingkir dlm blantika musik komersial.
Yg tersisa adalah para pengangum fanatik, yg jumlahnya kian sedikit.
Mungkin saya lahir terlambat…