Diskusi BBM (1)
Pengantar:
Seorang sahabat mengirim SMS yang memberitahukan tanggapan keras atas tulisan saya di Kompas, 16 Mei 2008, yang telah saya posting di blog ini. Lalu saya melakukan pencarian di mesin google dengan mengetik "faisal basri bbm". Muncul 44.000 entries. Ternyata banyak sekali tanggapan atas tulisan saya itu. Salah satu yang cukup rinci menanggapi dan beredar di berbagai milis adalah yang ditulis oleh A. Nizami. Berikut ini adalah tanggapannya. Saya mencoba semaksimal mungkin memberikan tanggapan balik.
***
Sedih juga melihat Faisal Basri terkesan sangat pro Pasar. Lihat pernyataannya:
==
FB: Tak seorang pun bisa melawan hukum pasar.
==
Adakah kalau pasar sekarang dipermainkan spekulan pasar hingga minyak meroket dari US$ 20 jadi US$200 pemerintah harus diam saja dan mengikuti pasar sehingga rakyat harus beli premium sampai Rp 20 ribu/liter? Lihat di www.infoindonesia.wordpress.com bagaimana harga minyak meroket melebihi kewajaran akibat ulah spekulan.
Nabi Muhammad ketika ada orang Yahudi yang menjual harga air dengan harta tinggi kepada rakyat bukannya mengikuti “pasar” Yahudi, tapi meminta sahabat membeli sumur air sehingga rakyat bisa menikmati air secara gratis.
Jadi ada yang bisa melawan pasar. Nabi Muhammad pernah melakukannya.
Di Kompas diberitakan bagaimana Cina yang merupakan importir ke-3 terbesar di dunia justru mensubsidi BBM sehingga para petani bisa menjalankan traktornya, pabrik-pabrik bisa berjalan dan mengekspor barang ke seluruh dunia. Sebagai ganti, rakyat jadi makmur dan pajak yang diterima pemerintah meningkat.
Tanggapan FB:
Kita harus bedakan hukum pasar dengan tunduk pada mekanisme pasar. Hukum pasar merupakan sunnatullah, misalnya: kalau harga relatif murah, permintaan cenderung akan lebih banyak; kalau terjadi disparitas harga–apalagi kalau besar–niscaya akan terjadi beragam piuh/distortions; kalau barang langka dihargai murah, maka barang tersebut akan cepat terkuras habis. Tak ada satu negara pun yang sejahtera di dunia ini yang tak menghargai mekanisme pasar. Tapi tak berarti kita dijajah oleh pasar. Kita, tentu saja, bisa menjinakkan pasar, tapi tidak "memerkosanya".
Ada kisah lain di masa Rasulullah ketika terjadi kenaikan harga pangan di Madinah. Para sahabat mendatangi Rasul dan berkata: "Ya, Rasulullah, tetapkan harga untuk kami." Rasul menolak desakan para sahabat. Jika Rasul mengikuti kehendak sahabat, niscaya akan terjadi: antrean, spekulasi, pasar gelap, penimbunan, dsb. Bagaimana nasib si miskin? Ada baitul mal yang akan bantu si miskin, sehingga yang kaya tetap bayar sesuai harga pasar.
Sebagai saudagar, Rasul menaikkan harga kalau permintaan naik, ceteris paribus, dan sebaliknya.
==
FB:
Tanpa kenaikan harga BBM, subsidi energi melonjak dari Rp 187 triliun menjadi hampir Rp 250 triliun. Kalau harga merangkak naik hingga 150 dollar AS, subsidi bisa menggelembung ke sekitar Rp 300 triliun.
===
Dari Data Statistik Energi Resmi milik Pemerintah AS menyatakan Produksi minyak Indonesia 1,1 juta bph (2006) dan konsumsi 1,2 juta bph.
http://www.eia.doe.gov/emeu/cabs/Indonesia/Oil.html
90% minyak Indonesia dikelola perusahaan asing (sebagian besar perusahaan AS) dan pemerintah AS sangat tegas jika ada pemalsuan data jadi cukup dipercaya.
Dengan angka tersebut dan biaya pengolahan minyak sampai US$ 15/barrel dan penjualan US$ 77/barrel (Rp 4500/liter) Indonesia sudah untung Rp 165 trilyun. Kecuali Faisal Basri menganggap kalau harga di luar US$ 200/barrel sementara Indonesia menjualnya US$ 77/barrel maka Indonesia rugi US$ 123/barrel meski biaya produksi berikut keuntungan kontraktor hanya US$ 15/barrel dan impor hanya 0,2 juta bph (kurang dari 20%).
Tanggapan FB:
Lebih untung lagi kalau kita jual pada harga internasional dan windfall ini kita bagi-bagi langsung ke rakyat ketimbang kita jual dengan harga murah yang sebagian besar dinikmati yang mampu.
Karena sebagian besar produksi minyak dilakukan perusahaan asing, terutama AS, 40 persen minyak yg kita produksi adalah hak mereka. Kalau kita mau beli, ya dgn harga pasar.
Tak selalu yg datang dari AS benar. Jangan double standard lah terhadap AS. Tapi, bagaimanapun, kebutuhan minyak kita kian jauh lebih besar dari produksi kita. Ingat pula, kita kian banyak mengimpor BBM: kita pengimpor BBM terbesar di Asia. Kenapa begitu? Ya, karena penguasa bodoh. Kebodohan inilah yg harus kita lawan, bukan mengebiri diri kita sendiri dengan BBM murah.
==
Faisal Basri:
Tak pernah ada rencana yang dilaksanakan dengan konsisten untuk mengakhiri rezim subsidi BBM sehingga persoalan ini menjadi langgeng dan membelenggu diri kita sendiri.
===
Apakah Faisal Basri membela ulah para spekulan minyak di NYMEX yang merekayasa kenaikan harga minyak dari US$20/barrel hingga US$ 200/barrel? Sehingga rakyat mungkin bisa mati kelaparan karena berbagai harga termasuk pangan meroket naik karena semua didistribusikan dengan kendaraan/BBM? Bukan digemblok dengan jalan kaki?
Tanggapan FB:
Kenapa Kamboja dan Timor Leste bisa? Insya Allah kita juga bisa. Ingat, hukum pasar juga yang akan membuat harga minyak suatu waktu akan turun, karena harga tinggi akan membuat dunia usaha dan konsumen berhemat, akan muncul energ alternatif, akan ada rangsangan naikkan produksi minyak, dsb. Karena harga BBM di Indonesia "murah", kita jadi boros.
==
Faisal Basri:
Konsumen Indonesia tak peduli sekalipun harga minyak dunia meroket karena harga yang mereka bayar di Indonesia bergeming. Maka, jadilah Indonesia sebagai negara yang tergolong paling boros di dunia dalam hal penggunaan energi.
===
Apa Faisal Basri tak pernah menonton TV atau Baca Koran? Rakyat Indonesia banyak yang demo menentang kenaikan harga BBM. Saya sendiri meski tidak demo, tidak berarti saya setuju harga BBM naik. Saya yakin banyak yang begitu. Kecuali beberapa gelintir orang yang justru untung/dapat “rezeki” ketika harga BBM naik saja yang setuju.
Faisal mengatakan Indonesia negara paling boros di dunia dalam penggunaan energi? Apa betul?
Data statistik justru menunjukkan untuk konsumsi minyak per kapita di Indonesia menempati urutan 116 di bawah negara Afrika seperti Namibia dan Botswana dengan 1,7 barrel per tahun (0,7 liter per hari).
Ini di bawah konsumsi BBM/kapita rakyat Singapura sebesar 59,5 barrel/tahun (26 liter/hari) atau Amerika 25,8 barrel/tahun (11 liter/hari). Rakyat AS memakai mobil yang boros bensin serta rumahnya rata2 memakai AC/Heater. Sementara rakyat Indonesia yang miskin paling cuma naik motor (1:40) dan kipas angin.
Untuk jumlah keseluruhan, Indonesia yang jumlah penduduknya terbesar ke 4 di dunia hanya menempati peringkat 17. Padahal wajar untuk penggunaan energi juga rangking 4. Jadi bohong besar jika ada yang mengatakan Indonesia negara terboros dalam penggunaan energi.
https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/rankorder/2174rank.html
Lihat Venezuela dan juga beberapa negara lainnya. Meski harga bensin cuma Rp 460/liter, tapi tidak ada disparitas harga, penyelundupan, dsb. Indonesia harus belajar pada Venezuela dan negara-negar lain yang bisa menyediakan BBM murah bagi rakyatnya.
Bukan mencekik rakyat dengan harga BBM yang tinggi mengikuti ulah spekulan pasar minyak.
Kita butuh intelektual yang pro rakyat. Bukan yang pro pasar.
Tanggapan FB:
Negara miskin pasti konsumsi energinya juga rendah. Desa-desa tak dilistriki. Hanya 55 persen penduduk yg dapat aliran listrik. Industrinya kebanyakan padat karya yg relatif sedikit mengonsumsi listrik, sering mati lagi..
Kalau mau ukur pemborosan, ya pakai ukuran yg pas dong, yakni berapa energi yg dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output. Kalau di Jepang butuh 1, kita 5. Di negara-negara tetangga juga lebih hemat dari kita. Dengan kasat mata kita bisa temui: kemacetan di Jakarta itu contoh paling mencolok.
Penutup: Lebih bahaya yang mengatasnamakan rakyat tapi pada galibnya justru menyengsarakan rakyat…