KEJUJURAN PROFESI*

(Faisal Basri)

“Off all human powers operating on the affairs of mankind, none is greater than that of competition.” (Henry Clay, 1832)

Sudah puluhan tahun prestasi olahraga sepakbola di tanah air tak pernah membanggakan. Penyebabnya banyak. Pertama, kompetisi berjenjang tidak berlangsung secara teratur. Kedua, aturan tidak ditegakkan secara tegas dan konsisten, sehingga pertandingan sepakbola kerap dinodai oleh kericuhan dan perkelahian.  Ketiga, kepengurusan pada organisasi persepakbolaan nasional kerap ricuh dan tak profesional.

            Dalam kehidupan politik kejadiannya hampir serupa. Persaingan politik sangat tak sehat, kehidupan di partai-partai tidak mengedepankan sportivitas, dan eli-elit partai kerap berseteru sehingga sering menimbulkan kepengurusan ganda. Setiap kongres partai waktu lebih banyak dihabiskan mengutik-utik tata tertib dan aturan pemilihan pengurus, demi untuk memuluskan agenda terselubung dan ”jago” dari masing-masing kubu. Tak jarang, uang juga ikut bicara. Yang paling mulus adalah pembahasan agenda program kerja, karena tak banyak bersinggungan dengan perbedaan-perbedaan kepentingan.

            Gambaran yang tak jauh berbeda bisa kita jumpai pula pada kehidupan dunia usaha. Persaingan tak sehat dengan kasat mata terjadi setiap hari. Kecurangan di dunia perbankan, pasar saham, dan pasar keuangan lainnya begitu kasat mata. Manipulasi pembukuan dan perpajakan sudah lumrah dan tak dipandang sebagai tindakan amoral.

            Perilaku tak terpuji bahkan telah mulai merambah ke dalam kehidupan kampus. Para petinggi universitas memperjualbelikan logo untuk sekedar memperoleh komisi dari proyek-proyek penelitian yang dikerjakan pihak luar, praktek plagiarism oleh dosen ditutup-tutupi atau hanya diberikan sanksi ringan, dan kampus tak lagi lantang menyuarakan kebenaran dan keadilan. Kampus tak ubahnya seperti pabrik yang mencetak ijazah sebanyak-banyaknya. Kampus semakin terbenam dalam kesibukannya berniaga.

***

            Mengambil istilah Kenichi Ohmae, fenomena seperti ini terjadi pada low trust society. Masyarakat global berinteraksi satu sama lain tanpa mengenal batas-batas negara dan perbedaan warganegara, suku, ras, dan agama. Interaksi ini terjadi lewat transaksi yang dilanjadi oleh semangat persaingan. Sudah barang tentu mekanisme seperti ini tak selamanya membawa maslahat bagi seluruh warga dunia. Ekses banyak terjadi dan sejumlah negara dan jutaan penduduk dunia terpinggirkan. Pemusatan akumulasi modal dan jurang ketimpangan di dalam suatu negara maupun antarnegara semakin parah. Pasar memang kerap membawa petaka dan bersifat eksploitatif.

            Namun bukan karena sisi gelapnya itu kita lantas menafikan pasar, karena pasar tak mungkin tergantikan oleh mekanisme lain sebagai kendaraan menuju kemakmuran dan kesejahteraan. Kita memang wajib terus mencari formulasi untuk mewujudkan pasar yang bermartabat, yang mengusung sense of justice dan sense of equity.

            Moralitas nyata-nyata punya tempat dalam ekonomi. Bukankah Adam Smith mengatakan bahwa economics is moral science? Mekanisme pasar dengan proses pertukaran yang melibatkan miliaran manusia tanpa henti, hanya mungkin terjadi dan menghasilkan keadilan jika berlangsung dalam keterbukaan (transparan) dan akuntabel yang dilandasi oleh seperangkat aturan tertulis maupun tak tertulis.

***

            Profesi penilai, auditor, akuntan, analis keuangan, ekonom, dan lainnya menjadi penopang kapitalisme global. Jika kalangan profesional ini seperti persepakbolaan dan perpolitikan di Indonesia, maka mereka turut memacu dunia usaha dan perekonomian semakin liar. Mereka sekedar menjadi mesin tanpa jiwa dari para pemilik modal. Mereka puas dengan sekedar menjadi rimah-rimah dari sistem kapitalisme yang menghisap dan menipu. Mereka seharusnya menjadi pengimbang. Kejujuran adalah kuncinya. Transparansi dan akuntabilitas menjadi syaratnya. 

            Jon M. Huntsman (2005) dalam bukunya Winners never Cheat mengajarkan pada kita bahwa yang benar dan yang salah jelas sekali perbedaannya dan oleh karena itu kita harus selalu memeriksa moral compass dalam setiap langkah yang hendak kita tempuh. Ia juga menekankan untuk senantiasa mematuhi aturan dan bersaing mati-matian tapi dengan sehat tanpa menelikung. Pengalamannya sebagai pengusaha sukses membuktikan bahwa kejujuran menduduki tempat terhormat dalam berusaha dan, lebih dari itu, kunci untuk meraih sukses yang bermartabat.

            Maka sudah sepantasnyalah, seluruh profesi, mulai dari akuntan, penilai, ekonom, pengacara, dokter, dan lain sebagainya, termasuk pula kalangan birokrat, pengusaha dan masyarakat umumnya, selalu mengedepankan kejujuran. Sehingga, proses kehidupan berjalan lebih baik.

***

*Artikel, dimuat di jurnal eBAR (Economics Business Accounting Review), Vol. I, November 2005: 1-3.

Leave a Reply