Manusia Perahu

Pengantar:

Perjalanan hidup keluarga Saibi sangat unik dan dramatik. Saya sudah tiga kali mengunjungi rumah perahu keluarga ini. Mereka bukan gelandangan. Bukan juga pemalas. Mereka korban dari kebijakan pemerintah kota yang tak berpihak pada yang lemah. Di tengah suasana ulang tahun Jakarta, saya tergerak untuk mengangkat kembali kisah keluarga yang dipinggirkan ini.

===

Saibi namanya. Tetapi orang-orang yang mengenalnya hanya tahu jika disebut nama bebe. Mereka menjulukinya sebagai manusia perahu.

”Sudah dua lebaran tinggal di sini,” kata pria kelahiran 56 tahun lalu ini seraya menunjuk ”rumah’-nya yang sedang ditambat di bantaran kali Banjir kanal Barat, di kawasan Pejagalan, Teluk Gong, Jakarta Utara.

Rumah-nya itu berupa perahu berukuran 2 x 4 meter yang ditutupi tenda plastik yang sudah kusam warnanya.Di dalamnya terlihat berbagai perabotan dan pakaian yang diletakan sekenanya. Di situlah ia beserta istri dan 3 anaknya tinggal. ”Yang satu sudah bekerja di bangunan, dua lagi masih sekolah dasar,” ucapnya.

Di samping rumah perahunya itu, tertambat sebuah sampan berukuran kecil. Sehari-hari ia gunakan untuk memungut benda-benda plastik yang mengalir di tengah kali. ”Lagi bocor, belum ada (uang) untuk menambalnya,” kata ayah dari 6 anak ini.

Tinggal di perahu adalah kiatnya menghindar dari ’gempuran’ trantib. ”Jika ada penggusuran, tinggal pindah ke seberang. Jadi nggak mungkin kena bakar lagi,” katanya ringan. Rumah perahu itu merupakan hasil urunan 3 orang putrinya yang sudah bekerja. ”Habis 3,5 juta,” katanya.

Penggusuran pun pembakaran bukan sekali dua penah ia alami. Setahun lalu, saat dikunjungi, ia pernah melontarkan angka 28 kali. ”Sudah tak ingat, maklum sudah tua,” katanya ketika disambangi Sabtu (21/10) lalu.

Di lokasi tempatnya rumah perahu ditambat, ia punya sekitar 7 tetangga. Kesemuanya tinggal dalam tenda-tenda berukuran kecil setelah bangunan semi permanen milik mereka dibakar aparat tramtib, Juli lalu.

***

Jika menganggap Saibi adalah pendatang , Anda keliru. Orang tuanya sudah bermukim di kawasan Muara Angke sejak sebelum Indonesia merdeka. Bapaknya bekerja sebagai penjaga empang milik seorang peranakan tionghoa yang tinggal di Pluit. Di bekas empang itulah kini bermukim belasan KK yang tinggal di tenda-tenda setelah rumah mereka pada Juli lalu kembali dibakar aparat trantib kelurahan Pejagalan.

Tak kurang 30 tahun ia menekuni profesi sebagai pencari kerang di lepas pantai di seputar Muara Baru. ”Tidak pake alat selam. Cukup kacamata renang saja,” kenangnya. Lantaran tak kuat lagi, ia beberapa tahun terakhir ini ia mencari nafkah dengan mengumpulkan sampah gelas dan botol plastik yang mengalir di kali Banjir Kanal Barat yang airnya hitam pekat dan berbau itu.

Rejekinya ditentukan angin. Semakin besar hembusan angin, berarti nasib baik menyertainya. Tak kurang 10 kg gelas dan botol plastik bisa dikumpulkannya. Sampah-sampah ini dilegonya kepada tengkulak seharga 4000 perak per kg untuk gelas plastik, sedangkan botol platik aqua hanya laku 2000 perak per kg.

Sebaliknya, tatkala dulu mencari kerang, hembusan angin merupakan musuhnya. Semakin besar angin, semakin tinggi gelombang laut yang tercipta. Itu jelas menyusahkannya tatkala menyelam.

Lantaran angin tak selalu bisa ditebak, pendapatannya pun tak menentu. Untuk memenuhi biaya sehari-hari, istrinya juga ikut memulung botol dan gelas plastik. ”Sudah seminggu tak berusaha. Tangannya kena tusuk sate tatkala mengambil sampah plastik di Muara Karang,” terangnya sambil menunjuk ke arah istrinya yang tengah memijat-mijat tangan kirinya yang terlihat bengkak.

Jika usaha — begitu ia menamai pekerjaannya memulung – lagi macet, hidup pun terasa kian sulit. Beberapa pengeluaran terpaksa di pangkas. Salah satunya kebutuhan air bersih.”Jika lagi tak uang, terpaksa minta dengan tetangga yang tinggal di kolong (jembatan tol),” ujarnya.

Dan, menyekolahkan anak pun kian dirasakan berat baginya. Tapi, Saibi tak ingin anaknya bernasib serupa dengan dirinya, tak bisa membaca dan menulis. Tatkala disampaikan bahwa sekarang sekolah gratis, Saibi tak menampik. Tapi, ”kan tetap harus beli buku, beli seragam,” katanya dengan sorot mata menerawang.

Saibi bukannya tak ingin tinggal di darat lagi. Tapi, ia mengaku belum bisa menghilangkan kekhawatirannya. ”Masih deg-deg an, ” katanya pelan.

Bukan keinginan Saibi hidup berkalang kemiskinan. Tapi, arus kehidupan telah menjadikan dirinya dan juga orang-orang yang senasib dengannya sebagai warga negara kelas tiga di negeri yang mengaku berfalsafah Pancasila ini. Selalu disalahkan, selalu diperlakukan dengan buruk dan pula diabaikan.***

Diunduh dari http://faisalbasri.com/Content/Article_Detail.asp?TypeID=2&PerspektifID=62

Leave a Reply