Archive for July, 2008

Bertani Organik (2)

Thursday, July 10th, 2008

Kami menanam sayur mayur dan buah-buahan (tomat, apel hijau, anggur, markisa, dsb). Sejauh ini hasilnya cukup menggembirakan. Tampak nyata perbedaan hasil dari tanaman yang tanpa dan dengan sentuhan pupuk organik produksi kami sendiri. Yang sudah bisa dibandingkan adalah tomat dan cabai besar.

Dscn1110Foto_lahan_baru_2_juli_2008_183Foto_lahan_baru_2_juli_2008_188

Ada pula tanaman hias (bunga) dan herbal. Jika Anda mengunjugi Bale Pergerakan (ini nama yang kami pakai), insya Allah kami sudah bisa menyajikan teh khas kami yang berwarna merah, konon berkhasiat menurunkan kadar kolesterol.

Foto_lahan_baru_2_juli_2008_165Foto_lahan_baru_2_juli_2008_166_1

Ada pula kolam lele. Masih butuh waktu untuk bisa menyicipinya. Ada sedikit masalah. Kami sedang berupaya menurunkan kadar kapur pada air yang bersumber dari air tanah.

Bertani Organik (1)

Thursday, July 10th, 2008

Betapa senang kami melihat hasil sementara bertani organik. Berlokasi di Bantul, dengan lahan kritis (tanah lempung) dan hanya 0,132 hektar, kami menanam padi dan holtikultura. Pupuk yang digunakan sepenuhnya organik yang kami produksi sendiri.

Dscn1106Foto_lahan_baru_2_juli_2008_160P1070086

Tak ada irigasi. Kami hanya menggali sekitar 30 cm dan dialasi plastik. Perlu diingat bahwa padi bukan tanaman air, tapi perlu air. Penanaman satu tungkai saja dan jarang2. Gambar di tengah adalah kondisi seminggu lalu. Insya Allah sebentar lagi seperti gambar kanan. Alasannya, kami menerapkan cara dan perlakuan yang sama seperti gambar kanan, dan "arsiteknya" pun sama, yakni Mbah Mur.

MEMAHAMI INDONESIA:

Tuesday, July 8th, 2008

PERSPEKTIF EKONOMI POLITIK*

(Faisal Basri)

Gelombang perubahan di lingkungan mondial dan nasional kian terasa menghentak bahtera yang sedang oleng. Penumpang di dalamnya ada yang tetap melanjutkan pesta pora, tak merasakan gulungan ombak yang mulai membasahi palka. Ada yang mulai cemas, ada pula yang terserang mabuk laut. Di sudut sana ada sekelompok penumpang yang masih penuh harap dan berhitung: berapa banyak lagi cadangan makanan dan berapa lama lagi bisa mencapai daratan. Mereka mencari siasat untuk menyesuaikan diri dengan cuaca yang tak ramah agar bisa lebih cepat menggapai pulau terdekat. Syukur mereka masih memiliki kompas penunjuk arah dan sedikit ingat-ingatan dari pengalaman mengarungi samudera luas tak bertepi selama lebih dari 60 tahun.

                Saya bertamsil bahwa sekelompok penumpang di sudut bahtera itu adalah kita semua yang hadir di sini. Kita pula yang harus senantiasa meyakinkan penumpang yang sedang berpesta-pora untuk menghentikan kegaduhan, melahirkan kembali semangat penumpang yang kehilangan asa, dan menyodorkan seteguk air sebagai penyegar bagi yang mabuk laut. Kita berkumpul di sini karena masih punya secercah harapan dan meyakini bahwa pembaruan akan menjadi niscaya seandainya kita sendiri dengan sepenuh hati mau menjadi penggerak perubahan menuju cita-cita bersama sebagaimana didambakan oleh para pejuang pendahulu dan para pendiri Republik yang kita cintai ini.

                Sekalipun belum terlalu panjang, pengalaman kita bernegara-bangsa telah membuktikan bahwa kita mampu beberapa kali keluar dari kemelut dan bangkit kembali dari keterpurukan. Kebangkitan kembali bersumber dari kesadaran untuk berubah. Sayangnya kita kerap mengulangi kesalahan yang sama, sehingga beberapa kali digulung oleh waktu.

                Kita tak boleh lagi menyia-nyiakan kesempatan, lalu ditinggalkan oleh waktu. Sumpah serapah kepada keadaan dan pihak lain sebagai sumber petaka tak akan membuat kita punya cukup tenaga untuk melangkah tegap. Sibuk hanya mencari “kambing hitam” adalah tindakan sia-sia yang membuat kita semakin kerdil. Mari kita siasati perubahan agar menjadi kesempatan atau peluang, bukan cuma sebagai ancaman, tantangan, dan bahaya menghadang. Dengan sikap demikian, kita meneguhkan tekad untuk menjadi bangsa yang terbuka, siap mengarungi perubahan dari segala penjuru, menghadapi segala tantangan, ancaman, dan bahaya, serta meraih peluang dan kesempatan yang menyembul dari perubahan tersebut.

                Bukankah perubahan ibarat pendulum yang tak pernah berhenti bergerak. Perubahan senantiasa akan kita hadapi sejak lahir hingga akhir hayat nanti, hingga hari penghabisan. Perubahan selalu terjadi baik di dalam diri kita maupun di lingkungan luar kita, mulai dari yang paling dekat hingga yang terjauh. Oleh karena itulah kerap dikatakan bahwa yang kekal hanyalah perubahan itu sendiri.

                Dari mana kita mulai melangkah? Agaknya tak berlebihan kalau kita perlu mengenali lebih dalam siapa kita, memahami diri kita terlebih dahulu, memahami yang menaungi kita: memahami Indonesia.

***

                Kita patut bersyukur mempunyai modal dasar yang memadai untuk menghadapi gelombang perubahan. Negeri kita memiliki garis pantai terpanjang di dunia dengan kekayaan maritim yang beraneka. Hamparan daratan yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau mengandung kekayaan alam yang lebih dari cukup untuk menyejahterakan rakyatnya. Potensi pasar dalam negeri tergolong memadai untuk menyerap berbagai produksi barang dan jasa. Keberanekaan suku bangsa, ras, agama, adat istiadat, dan budaya menjadi modal berharga, untuk saling melengkapi dan mengisi potensi keunggulan yang berbeda-beda bagi peningkatan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

                Sejauh ini rasanya kita masih belum berhasil mengokohkan Indonesia sebagai nation dalam artian himpunan yang bergerak ke depan, menggapai kemajuan dalam artian yang seluas-luasnya melalui consensus building, dalam upaya untuk melembagakan pembangunan dan menjaga pergerakan jangka panjangnya (the long-term maintenance of maneverability). Kita masih belum mampu melepaskan diri dari kelabu masa lalu, bahkan sebaliknya, bayang-bayang sosok masa lalu sudah di hadapan kita, siap menghadang himpunan yang sedang menggeliat dan siap bergerak.

                Kini tiba saatnya bagi kita untuk memperpanjang dan memperbesar tenaga bagi himpunan yang bergerak untuk maju dan terus maju, munguakkan harapan, dan menabur optimisme baru. Kita harus memecahkan kebisuan nurani dan mencairkan kebekuan asa. Mari kita himpun kekuatan-kekuatan yang selama ini berserakan, menjadikannya sebagai energi yang padu untuk melahirkan kembali Indonesia yang bermartabat, menuju cita-cita memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menegakkan keadilan sosial.

***

                Kita telah sangat mengetahui tujuan akhir tempat berlabuh. Namun serasa kita tak semakin mendekat dengan tujuan itu, bahkan sosoknya kian samar-samar. Belum satu pulau terlampaui, kita tergesa mengganti biduk karena merasa tak nyaman. Tak lama biduk baru dipakai, kita melihat biduk orang lain lebih molek, lalu kita menumpang di biduk orang lain itu. Rasa tak puas kembali hinggap, lalu kita bongkar biduk orang lain itu, tetapi kita tak tahu sosok biduk macam apa yang kita kehendaki. Akibatnya, kita tak kunjung kembali berlayar, sementara orang lain sudah hampir sampai ke tujuan.

                Penggalan di atas mencerminkan perjalanan bangsa kita yang tak kunjung selesai memilih kendaraan untuk mencapai tujuan. Kendaraan tersebut adalah sistem ekonomi, dan system politik tentunya. Yang tercantum di dalam Undang-undang Dasar 1945, baik yang asli maupun yang telah empat kali diamandemen, ialah istilah “demokrasi ekonomi” sebagai asas dengan penjelasan yang dibuat oleh Soepomo. Undang-undang Dasar 1945 tidak mencantumkan secara tegas sistem ekonomi yang dipilih sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan kesejahteraan sosial.

                Semua sistem ekonomi, sebagaimana juga sistem politik, azalinya didedikasikan untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyatnya. Selanjutnya, sistem ekonomi maupun sistem politik akan mampu menjaga keberadaannya dan berkelanjutan jika:

1)      Menjawab tantangan-tantangan yang muncul dari lingkungan internal maupun eksternalnya.

2)      Memiliki kemampuan melekat untuk memperbarui dirinya sendiri dari waktu ke waktu dengan tetap mengacu pada nilai-nilai intinya (core values).

3)      Memenuhi sense of justice and sense of equity.

               

                Hingga kini kita masih terus mencari sosok sistem ekonomi yang sesuai dengan karakteristik dan nilai-nilai inti yang kita yakini dan yang bisa kita jadikan kendaraan untuk mencapai cita-cita bersama. Cita-cita yang tertuang di dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 sedemikian sangat lugasnya dan sungguh sangat sejalan dengan tujuan dari suatu sistem ekonomi, yakni: mendayagunakan segenap karunia sumber untuk menyejahteraan segenap rakyatnya sehingga bangunan perekonomian kokoh dan mendiri serta mampu menghadapi segala terpaan dari lingkungan dalam dan lingkungan luar.

                Sayangnya selama ini kita terlalu banyak disibukkan dalam proses pencarian yang tak kunjung berakhir, karena berputar-putar tak jelas arah. Yang terjadi ialah uji-coba tak berkesudahan, berpindah dari satu ekstrem ke ekstrem lain. Ke titik tengah pun tidak.  Bandul atau pendulum tak bergerak dinamis, hanya sekali berayun ke kiri lalu berhenti, dan setelah masa tertentu yang relatif panjang, pendulum berayun ke ekstrem lain dan kembali berhenti di situ. Jangan-jangan kita tak tahu apa yang kita cari dan tuju.

                Kita lebih banyak meniru, tapi tanpa konsistensi. Yang kita ambil cuma kulit-kulitnya saja, tanpa jiwa dan prasyarat-prasyaratnya. Karena cara yang ditempuh seperti itulah yang mungkin membuat proses pembangunan selama ini menghasilkan pola yang discontinuum atau terpatah-patah. Tatkala kita menyadari hasil yang didapat semakin jauh dari apa yang kita idealkan, serta merta kita menyalahkan pihak luar. Bukankah seharusnya kita lebih bercermin pada diri sendiri, kelemahan kita sendiri.

                Sebagai negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang relatif lengkap, jumlah penduduk yang menjanjikan potensi pasar besar, serta karakteristik sosial budaya yang unik, sudah barang tentu kekuatan-kekuatan dunia selalu menatap kita, mencari celah untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari bumi Indonesia, baik keuntungan politik maupun ekonomi. Adalah sesuatu yang lumrah kalau mereka mengembangkan berbagai skenario terhadap kita, termasuk melakukan berbagai bentuk konspirasi untuk melemahkan kita.

                Namun, semuanya pada akhirnya berpulang pada kita sendiri. Sebagai negara berdaulat, kita memiliki hak penuh untuk mengatur diri kita sendiri dengan cara-cara yang beradab dan dan menjunjung tinggi kewajiban internasional kita sebagaimana tercermin di dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945.

                Saatnya kita merumuskan dengan lebih rinci tentang pilihan kita. Kalau kita sepakat bahwa apa pun sistem kita pilih harus bersumber pada keotonomian dan pasar, maka harus dipastikan bahwa sistem tersebut ditopang oleh fondasi yang kokoh yang mengakar pada nilai-nilai inti yang harus terhadirkan tanpa kompromi. Karena, kemajuan ekonomi ditentukan oleh kualitas dari institusi-institusi yang menopang keotonomian dan keberadaan pasar.

***

                Kalau kita memilih sistem pasar, maka harus dipastikan bahwa bukan sistem pasar bebas yang kita acu. Kalau kita memilih sistem pasar, tak berarti kita melemahkan peran negara, melainkan sebaliknya harus semakin kokoh. Pasar dan negara bukanlah pilihan “ini atau itu” (either or).

                Bagaimana mungkin kita mengembangkan pemikiran yang konstruktif bagi kemajuan seandainya kita cuma sibuk menegasikan gagasan yang tak sepenuhnya kita pahami. Tak pula kita akan menjadi kampiun sejati dengan cara gegabah melabelkan pihak yang berbeda pemikiran sebagai libertarian atau sebaliknya komunis/sosialis; atau karena kita merasa di kubu kiri lalu pihak lawan kita pandang di kubu kanan.

                Sama seperti demokrasi yang banyak dicerca sebagai sistem yang buruk namun pilihan-pilihan lain ternyata lebih buruk lagi, sistem pasar pun bukanlah sistem yang sempurna namun sistem lainnya terbukti lebih banyak mengandung kelemahan. Sejauh ini, dan agaknya memang sesuai dengan hukum alam, tak ada kendaraan yang lebih baik dari pasar untuk mencapai tujuan kemakmuran dan kesejahteraan. Dengan kesadaran demikian,mari kita membangun tatanan ekonomi yang berkeadilan.

                Hakekat pembangunan adalah membentuk manusia-manusia atau individu-individu otonom, yang memungkinkan mereka bisa mengaktualisasikan segala potensi terbaik yang dimilikinya secara optimal. Dari sini muncul keberagaman dan spesialisasi sehingga menyuburkan pertukaran (exchange) atau transaksi. Inilah yang menjadi landasan kokoh bagi terwujudnya manusia-manusia unggulan sebagai modal utama terbentuknya daya saing nasional dalam menghadapi persaingan mondial. Transaksi tak lain merupakan perwujudan dari interaksi antarmanusia dengan segala keberagaman dan kelebihannya masing-masing. Perbedaan merupakan refleksi dari keberadaan manusia—yang membedakannya dengan mahluk-mahluk lain—dengan free will yang diperolehnya dari Sang Pencipta. Adapun hasil dari transaksi atau interaksi tersebut adalah kesejahteraan sosial (social welfare) sebagaimana dijanjikan oleh prinsip keunggulan komparatif (comparative advantage).

                Kesejahteraan sosial terwujud melalui tercapainya kemakmuran (prosperity) yang berkeadilan (justice). Demokrasi adalah prasyarat terpenting untuk mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkeadilan. Pembangunan tidak boleh lagi memisahkan di antara keduanya, melainkan harus padu (built in) di dalam strategi dan setiap kebijakan pembangunan. Pemerintahan Orde Baru mengedepankan jargon “Pembangunan ekonomi yes, politik no,” sebagaimana dikenal di dalam kerangka pemikiran developmental state yang kerap dipraktekkan oleh rezim-rezim otoriter di negara-negara berkembang. Pengejawantahannya tercermin dari trilogi pembangunan (pertumbuhan, stabilitas, dan pemerataan). Ketiganya bercampur baur di dalam satu wacana, yaitu wacana ekonomi. Dengan demikian tampak sekali bahwa memang wacana politik cenderung dikebiri.

Kokohnya bangunan kemakmuran ditopang oleh kualitas dari tiga pilar yang melandasinya, yaitu: pertumbuhan, stabilitas, dan efisiensi. Pilar pertumbuhan merupakan sisi penawaran (supply side) yang keberlangsungannya ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni: modal, tenaga kerja, dan teknologi. Ketiga faktor ini diramu oleh pengusaha untuk menggerakkan roda produksi. Mereka terdiri dari pengusaha kecil, menengah, maupun besar. Bangun usahanya bisa berupa koperasi, swasta, ataupun badan usaha milik negara (BUMN). Para aktornya bisa pula dikelompokkan ke dalam sektor tradisional dan sektor modern ataupun sektor informal dan sektor formal.

Sosok perekonomian dan dinamika pertumbuhan bisa pula ditinjau secara sektoral sebagaimana dapat ditelaah dari struktur produksi suatu perekonomian. Baik struktur produksi maupun komposisi para aktornya selalu mengalami perubahan sejalan dengan pergeseran pada komposisi faktor-faktor produksi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, perubahan teknologi.

Tinjauan spatial akan melengkapi pemahaman terhadap sosok perekonomian secara lebih lengkap. Dari tinjauan ini tergambarkan persebaran kegiatan ekonomi berdasarkan lokasi: antarpropinsi, Jawa vs. luar Jawa, ataupun Kawasan Barat Indonesia vs. Kawasan Timur Indonesia.

Peningkatan daya pertumbuhan membutuhkan suatu proses yang kompleks dan multidimensional. Oleh karena itulah perspektif pengembangan daya pertumbuhan selalu ditempatkan dalam kerangka jangka panjang. Dengan perkataan lain, upaya untuk melakukan perubahan struktural terhadap komposisi sektoral dan spatial maupun para aktornya tak bisa dengan jalan pintas.

Pilar kedua dari kemakmuran adalah stabilitas ekonomi. Rezim Orde Baru juga menekakan pentingnya stabilitas sebagaimana tergambarkan pada trilogi pembangunan, namun penekanannya lebih pada stabilitas keamanan. Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas ekonomi lazimnya dikelompokkan ke dalam sisi permintaan (demand side), seperti: komponen-komponen konsumsi privat (private consumption), investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan impor; yang saling berinteraksi melalui variabel-variabel nilai tukar, suku bunga, dan tingkat harga. Komponen-komponen maupun variabel-variabel tersebut bisa dipengaruhi dalam kurun waktu yang relatif cepat. Karena itu sisi permintaan ini diperlakukan dalam perspektif  keseimbangan jangka pendek.

Pilar ketiga, yaitu efisiensi, merupakan proses yang menentukan apakah proses interaksi antara sisi penawaran dan permintaan berlangsung secara optimal. Sisi penawaran akan menggeliat dengan topangan kokoh seandainya didasarkan pada pola keunggulan komparatif sehingga memungkinkan alokasi sumber daya yang efisien. Sementara itu sisi permintaan akan menunjukkan sosok yang dinamis dan fleksibel terhadap perubahan-perubahan yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal.

Agar ketiga pilar tersebut menghasilkan suatu bangunan ekonomi yang kokoh, maka dibutuhkan suatu arena kelembagaan (institutional arena) yang memungkinkan seluruh elemen dari sisi penawaran berinteraksi dalam suatu irama yang harmonis. Jika pada suatu orkestra keharmonisan ditentukan oleh seorang dirijen, maka harmoni dalam segala pergerakan di sisi penawaran dan permintaan serta interaksi di antara keduanya yang menjamin efisiensi ditentukan oleh signal yang disampaikan oleh pasar. Pasar inilah yang merupakan institutional arena.

Sebelumnya dikemukakan bahwa kemakmuran harus seiring dan seirama dengan keadilan. Terwujudnya keadilan juga ditopang oleh tiga pilar utama, yaitu: kebebasan individu (freedom), tertib sosial (social order), dan pemerataan  (equity). Adapun institutional arena untuk menjamin kokohnya bangunan keadilan adalah good governance. Jika pasar merupakan kendaraan terbaik untuk mewujudkan bangunan kemakmuran, maka good governance bisa diibaratkan sebagai pengemudi yang handal dari kendaraan tersebut.

Seandainya sosok kedua bangunan di atas sudah terbentuk, maka akan terjadi suatu sinergi antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat (community). Tak akan ada lagi tempat bagi kebijakan yang mengatasnamakan demi kepentingan nasional tetapi dalam kenyataannya hanya menguntungkan orang per orang atau sebaliknya.

***

                Tak pelak lagi, tantangan Indonesia ke depan ialah menempatkan manusia sebagai titik pusat pembangunan. Tiga pilar yang harus diperkuat ialah pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dan teknologi informasi. Di ketiga bidang ini Indonesia jauh tertinggal. Perhatian pemerintah masih sebatas retorika politik.

                Tantangan berikutnya ialah mewujudkan mekanisme pasar yang berkeadilan. Kita menyadari bahwa sistem politik apapun membutuhkan mekanisme pasar yang proper yang berakar pada nilai-nilai persaingan yang berperadaban.

                Pasar bukanlah sosok yang berdimensi tunggal. Paham Neoliberal hanya menekankan pada satu sisi saja, yakni market creating, hanya mengedepankan jargon-jargon seperti liberalisasi, deregulasi, dan privatisasi yang memang bermuara pada fungsi pasar sebagai market creating sematadengan topangan financially driven capitalism. Padahal mekanisme pasar yang bisa berjalan dengan patut dan berkeadilan menuntut pula hadirnya tiga pilar lainnya, yakni market regulating, market stabilizing dan market legitimizing.

                Fungsi market regulating berperan sebagai jaring-jaring pengaman untuk menjamin agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat, menghindarkan praktek-praktek monopoli yang mengikis daya beli masyarakat dan menimbulkan deadweight loss, serta mengikis praktek-praktek kolusi yang dilakukan oleh sebelintir pengusaha besar. 

                Adapun fungsi market stabilizing ialah untuk menjamin agar dinamika di pasar bisa meredam fluktuasi dan volatilitas yang tak terkendali. Tanpa fungi market stabilizing agaknya pengusaha-pengusaha kecil tak akan mampu menjaga kelangsungan produksi dan komsumen akan dihadapkan pada ketidakpastian yang tinggi.

                Sementara itu fungsi market legitimizing diperlukan agar kelompok-kelompok masyarakat marginal tetap memperoleh akses masuk ke pasar dan memperoleh jaminan sosial seandainya dihadapkan pada risiko yang tak mungkin mereka atasi sendiri.

                Jika mekanisme pasar ditopang oleh keempat pilar ini maka niscaya kesejahteraan sosial bisa terwujud dan suatu sistem bisa bertahan dan selalu memperbarui dirinya karena memenuhi sense of justice dan sense of equity.

*** 



* Makalah, disampaikan pada acara Peluncuran Buku dan Public Lecture yang diselenggarakan oleh Soegeng Sarjadi Syndicate, Jakarta, 15 Februari 2006.

Kisruh Tambang dan EITI

Monday, July 7th, 2008

Kisruh Izin Pertambangan Karena EITI Belum Diterapkan

Abraham Lagaligo
abraham@majalahtambang.com

TAMBANG, 30 Juni 2008

Sejak otonomi daerah berlangsung di Indonesia, sebagian kewenangan pengelolaan sumber daya alam berpindah dari pusat ke daerah. Sayangnya, kini justru banyak terjadi tumpang tindih izin pertambangan antara yang diberikan pusat dan daerah. Hal ini disinyalir akibat belum diterapkannya EITI khususnya di dunia pertambangan nasional.

Ekonom dan pengamat pertambangan, Faisal Basri mengatakan, tumpang tindih izin pertambangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah bukan lagi hal yang aneh di negeri ini. Hampir di setiap daerah khususnya yang memiliki cadangan mineral dan batubara, terjadi kekisruhan seputar pemberian kuasa pertambangan. “Terkesan benar bahwa pusat dan daerah sama-sama berebut jatah kue pengelolaan sumber daya alam,” ujarnya kepada Majalah TAMBANG, pekan lalu.

Menurut Faisal, hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi apabila Pemerintah Indonesia secara konsisten menerapkan EITI (Extractive Industry Transparancy Initiatif). Dengan penerapan EITI maka wilayah-wilayah yang mengandung cadangan mineral dan batubara dapat terpetakan dan terdaftar dengan jelas. Kepada siapa konsesi pertambangan diberikan pun bisa diketahui dengan mudah, sehingga tidak sembarang pihak bisa menyerobot masuk.

“Pada dasarnya pengusaha tidak mau konflik dengan pemerintah, apalagi pemerintah pusat. Tapi karena dia tidak tahu suatu wilayah eksplorasi sudah ada yang memiliki, dan pemda juga tidak memberitahukan, maka dia tidak segan-segan untuk masuk,” jelas Faisal Basri. Jika EITI diterapkan maka calon investor dapat dengan mudah mendapatkan informasi tentang daerah yang hendak dieksploitasi. Sehingga tumpang tindih perizinan dapat terhindarkan.

EITI sendiri telah diusulkan sejak 2004 dalam “Johannesburg Summit” guna menunjang sustainable development di negara-negara yang kaya sumber daya alam. Salah satu negara berkembang yang sudah menerapkannya adalah Nigeria, dan terbukti negara itu mendapatkan keuntungan yang besar dari minyak. Konsep EITI berisi tentang kewajiban memaparkan berapa banyak pendapatan dari tambang setiap tahunnya dan untuk apa saja hasil-hasil tersebut digunakan.

“Karena Indonesia belum menerapkan EITI, jangan heran kisruh seperti ini akan terus terjadi,” tandas Faisal. Sedikitnya ada empat kasus tumpang tindih izin pertambangan yang sedang terjadi saat ini. Diantaranya penyerobotan lahan pertambangan milik PT Rio Tinto di Rasampala, Morowali, Sulawesi Tengah, penyerobotan lahan pertambangan PT Aneka Tambang di Konawe Utara, pemberian izin KP kepada enam investor swasta diatas lahan PT Bukit Asam di Lahat, dan tumpang tindih izin pertambangan pasir besi di Kalimantan Selatan.

(Berita selengkapnya ikuti Majalah TAMBANG Edisi Cetak, Juli 2008)

http://www.majalahtambang.com/detail_berita.php?category=18&newsnr=228

EITI

Monday, July 7th, 2008

untuk transparansi pengelolaan kekayaan alam kita

Inisiatif TransparansiIndustri Ekstraktif  = ITIE atau Extractive Industries Transparency Initiative  = EITI adalah  suatu prakarsa internasional yang bersifat sukarela dari pelbagai pemangku kepentingan untuk mempropagandakan pelaporan penerimaan minyak bumi, gas dan mineral yang dibayar industri dan dihimpun pemerintah, di negara-negara kaya sumber daya alam.

Jeffrey D. Sachs, dalam buku terbarunya (2008) yang berjudul Common Wealth: Economics for a Crowded Planet,  Amengutakan pentingnya EITI sebagai berikut: as global initiative to address the often egregious practices in the extractive industries; dan to support improved governance in resource-rich countries through the verification and full publication of company payments and government revenues from oil, gas, and mining (hal.324).

Jika ingin lebih mengetahui EITI dan kemungkinan penerapan di Indonesia, dalam bentuk powerpoint, silakan unduh di: http://faisalbasri.blogs.friendster.com/EITI-Ina-020708.ppt untuk versi bahasa Indonesia dan http://faisalbasri.blogs.friendster.com/EITI-eng-020708.ppt untuk versi bahasa Inggris.

Silakan sebarluaskan demi transparansi pengelolaan kekayaan alam kita.

Harga minyak meroket

Monday, July 7th, 2008

Don’t blame the speculators

Harga minyak telah menembus rekor baru di atas 145 dollar AS minggu lalu. Pada waktu yang bersamaan konfrontasi Iran versus Barat terkait dengan isu nuklir Iran menyembul kembali (http://www.economist.com/world/africa/displaystory.cfm?story_id=11670939.) Kalau ketegangan di Timur Tengah meledak menjadi perang, bisa dibayangkan dampaknya terhadap harga minyak. Iran adalah negara pengekspor minyak terbesar keempat di dunia dan kawasan Teluk menyumbang 40 persen dari perdagangan minyak dunia.

Namun, di Amerika Serikat, yang sedang menjadi “kambing hitam” dari meroketnya harga minyak adalah ulah para spekulan. Di Indonesia pun, banyak yang meyakininya. Apa benar?

Tentu saja ada benarnya. Karena, bagaimanapun, setiap komoditas yang diperdagangkan di future markets mengandung unsur spekulasi, sebagaimana terjadi pula di financial and capital markets. Artikel di majalah Economist terbaru pantas dibaca (http://www.economist.com/opinion/displayStory.cfm?source=hptextfeature&story_id=11670357).

Berdasarkan perhitungan Barclays Capital, suatu investment bank, “index funds”, menyumbang hanya 12 persen dari outstanding contracts di NYMEX dan besarnya hanya 2 persen dari konsumsi minyak dunia setahun.

Jadi, jangan mimpilah harga minyak akan murah kembali. Kenaikan harga minyak, mineral, logam, dan komoditas pangan adalah bagian dari dunia yang sedang menuju keseimbangan baru.

Info BBM yang sesat!!!

Saturday, July 5th, 2008

Beberapa waktu lalu, beredar luas di berbagai milis propaganda dalam bentuk powerpoint bertajuk: Tidak Ada Subsidi BBM! Harusnya Pemerintah Untung Rp 165,8 Trilyun! Di halaman muka tercantum:

Agusnizami@yahoo.com.sg

www.infoindonesia.wordpress.com

(Silahkan kutip dan sebar-luaskan)

Banyak sekali kebohongan di dalam paparan ini. Salah satunya pada powerpoint No. 10. Di sana tercantum:

“Keuntungan Perusahaan Migas yang beroperasi di Indonesia, Exxon Mobil tahun 2007 sebesar US$40,6 milyar (Rp 373 trilyun) dari pendapatan US$ 114,9 milyar (RP 1.057 trilyun –CNN).”

Padahal, ekspor migas total Indonesia tahun 2007 hanya US$22.1 miliar (sumber: BPS/www.bps.go.id). Perlu diingat bahwa Exxonmobil bukanlah pemain terbesar di Indonesia. Produsen minyak terbesar ialah Chevron dengan produksi sekitar 450 ribu barrel/hari.

Kebohongan-kebohongan lain telah saya ungkapkan pada posting sebelumnya. Lihat pada kategori Current Affairs dengan tajuk Diskusi BBM (1). Kita patut prihatin dan sedih atas informasi yang menyesatkan ini.

The Power of the Dream

Thursday, July 3rd, 2008

Pengantar

Minggu ini saya memberikan ceramah di salah satu perusahaan. Acara dimulai dengan mengumandangkan lagu. Liriknya sangat berkesan dalam di sanibari saya. Menurut pembawa acara, lagu ini dikumandangkan pada pembukaan olimpiade di Atlanta, AS. Ia tak beri informasi pencipta dan penyanyinya. Jika ada sahabat yang tahu, sudi kiranya membagi informasi.

Kebetulan saya punya mimpi tentang masa depan Indonesia yang gemilang. Setelah mendengar lagu ini, saya makin optimistik bakal terwujud. Kuncinya, kita himpun kekuatan untuk menjadikannya nyata.

The Power of the Dream

Deep within each heart, there lies a magic spark

That lights the fire of our imagination

And since the dawn of man, the strength of just “I can”

Has brought together people of all nations

There’s nothing ordinary in the living of each day

There’s a special part every one of us will play

Feel the flame forever burn

Teaching lessons we must learn

To bring us closer to the power of the dream

As the world gives us its best

To stand apart from all the rest

It is the power of the dream that brings us here

Your mind will take you far

The rest is just pure heart

You’ll find your fate is all your own creation

And every boy and girl as they come into this world

They bring the gift of hope and inspiration

Feel the flame forever burn

Teaching lessons we must learn

To bring us closer to the power of the dream

The world unites in hope and peace

Pray that it will always be

It is the power of the dream that brings us here

There’s so much strength in all of us

Every woman, child and man

It’s the moment that you think you can’t

You’ll discover that you can

Feel the flame forever burn

Teaching lessons we must learn

To bring us closer to the power of the dream

The world unites in hope and peace

Pray that it will always be

It is the power of the dream that brings us here

Feel the flame forever burn

Teaching lessons we must learn

To bring us closer to the power of the dream

The world unites in hope and peace

Pray that it will always be

It is the power of the dream that brings us here

The power of the dream

The faith in things unseen

The courage to embrace your fear

No matter where you are

To reach for your own star

To realize the power of the dream

To realize the power of the dream

KEKUATAN MIMPI

Dari hati yang terdalam

Ada seberkas sinar yang terpancar..

Yang menerangi imajinasi kita

Di saat fajar menyingsing..

Hanya kekuatan " Aku bisa"

Yang membawa semua umat manusia di dunia ini

Tiada hal yang biasa saja

Dalam hidup ini…

Ada hal yang istimewa

karena setiap insan punya peranan..

Kobarkan semangat

Suatu hal yang harus kita lalui

Membawa kita mendekat kepada kekuatan mimpi

Karena dunia memberikan kita yang terbaik

Berbeda dari semua yang ada dimuka bumi

Dari setiap insan yang ada di dunia

Kekuatan mimpilah yang membawa kita ke sini

Pikiranmu melayang jauh

Yang tersisa hanya hati nurani

Kamu akan temukan takdirmu

Setiap insan yang ada di dunia ini

membawa inspirasi & harapan

Kobarkan semangat

Hal yang harus kita lalui

Membawa kita mendekat kepada kekuatan mimpi

Dunia menyatu dalam damai dan harapan

Kita doakan akan selamanya ada

Kekuatan mimpilah yang membawa kita ke sini.

Ada banyak kekuatan di diri kita

Yang setiap insan miliki

Di saat kamu rasakan kamu tidak bisa

Di saat itulah kau telah menemukan bahwa engkau bisa

Kobarkan semangat

Hal yang harus kita lalui

Membawa kita mendekat kepada kekuatan mimpi

Dunia menyatu dalam damai dan harapan

Kobarkan semangat

Hal yang harus kita lalui

Membawa kita mendekat kepada kekuatan mimpi

Dunia menyatu dalam damai dan harapan

                

Kita doakan akan selamanya ada

Kekuatan mimpilah yang membawa kita ke sini

Percayalah akan sesuatu yang tidak engkau lihat

Keberanian untuk mengalahkan ketakutanmu…

Di mana pun engkau berada saat ini…

Raihlah cita-citamu

Gapailah mimpimu… (2X)