Meninggalkan 2008, Melangkah di 2009 (6)

 

Menggenjot Pengeluaran Pemerintah 

 

Hingga triwulan ketiga (Januari-September) 2008, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia tergolong cukup cemerlang. Tatkala semua negara maju dan sejumlah negara berkembang mengalami kemerosotan cukup tajam, pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu mencapai 6,3 persen, persis dengan angka pertumbuhan 2007. Analisis ekonomi akhir tahun kali ini ditulis dosen UI Faisal Basri

Pertumbuhan ekonomi memang mulai sedikit melemah, menjadi 6,1 persen pada triwulan ketiga, dari 6,4 persen pada triwulan kedua. Hampir seluruh komponen produk domestik bruto (PDB) berdasar pengeluaran melambat. Hanya konsumsi pemerintah yang meningkat pertumbuhannya. Yakni, dari 5,5 persen pada triwulan kedua menjadi 16,9 persen pada triwulan ketiga.

Peningkatan tajam konsumsi pemerintah pada triwulan ketiga sudah merupakan kelaziman sesuai siklus anggaran (APBN). Namun, karena sumbangannya terhadap PDB relatif kecil, peningkatan tajam konsumsi pemerintah tak mampu mendongkrak pertumbuhan PDB. Perlambatan pertumbuhan sudah hampir bisa dipastikan lebih terasa pada triwulan terakhir, sehingga secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi selama 2008 diperkirakan hanya 6 persen.

Yang harus lebih dicermati adalah kualitas pertumbuhan. Hingga tahun ini, ketimpangan pertumbuhan antara sektor penghasil barang (tradable) dan sektor jasa (non-tradable) cenderung semakin buruk. Dalam dua tahun terakhir, sektor tradable hanya tumbuh sekitar 3 persen, sedangkan sektor non-tradable melesat sampai di atas 9 persen. Pola pertumbuhan yang kian senjang itu membuat kemampuan perekonomian untuk mengatasi masalah-masalah sosial tetap tumpul.

Angka kemiskinan dan tingkat pengangguran tak banyak beranjak dalam sepuluh tahun terakhir. Selain itu, sektor formal sulit menyerap tenaga kerja, sehingga sektor informal kian menjadi andalan dalam penyerapan tenaga kerja. Dewasa ini, sekitar 70 persen pekerja menyemut di sektor informal. Akibat selanjutnya adalah ketimpangan memburuk. Selama pemerintahan SBY-Kalla, tingkat ketimpangan yang diukur dengan koefisien gini selalu meningkat, bahkan pada 2007 peningkatannya sangat tajam.

Terasa Oktober

Dampak nyata krisis finansial global baru sangat terasa pada Oktober. Titik lemah perekonomian Indonesia adalah pada struktur lalu lintas modal masuk (capital inflow). Investasi portofolio (jangka pendek) jauh lebih besar daripada investasi langsung (jangka panjang).

Faktor itulah yang menyebabkan nilai tukar rupiah dan indeks bursa saham kita mengalami tekanan terparah dibanding kebanyakan negara tetangga di Asia Timur. Sedemikian besar porsi klaim jangka pendek pihak luar negeri (utang jangka pendek serta kepemilikan asing atas saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) tecermin dari perbandingannya terhadap cadangan devisa. Angkanya untuk Indonesia pada pertengahan 2008 adalah 237 persen, sedangkan seluruh negara ASEAN berada di bawah 100 persen.

Jika struktur lalu lintas modal masuk lebih sehat, niscaya perekonomian Indonesia akan lebih tangguh menghadapi badai krisis finansial global. Mengingat, kita memiliki modal dasar yang cukup baik di lini ”pertahanan” (domestik): perbankan kita sangat sehat, ketahanan pangan terjaga untuk jangka pendek, dan tekanan inflasi melemah sejalan dengan penurunan harga komoditas.

Kunci untuk menahan kemerosotan ekonomi ada di tangan pemerintah. Tak ada pilihan kecuali menggenjot pengeluaran pemerintah dengan dosis tinggi untuk mengimbangi kelesuan dunia usaha. Sejauh ini, kita belum melihat langkah-langkah ke arah sana. Justru sebaliknya, pemerintah memperketat APBN 2009 dengan menurunkan target defisit APBN menjadi hanya satu persen dari PDB.

Padahal, kebanyakan negara justru meningkatkan defisit untuk memompakan sebanyak mungkin dana tambahan agar kemerosotan pertumbuhan ekonomi bisa diredam. Peraturan perundang-undangan kita memungkinkan defisit sampai 3 persen dari PDB.

Sementara itu, konsumsi masyarakat (private consumption) masih bisa diharapkan tak mengalami penurunan drastis. Ada dua penopang utama. Pertama, dengan asumsi bahwa SBY-Kalla akan kembali berlaga dalam pemilihan presiden 2009, pemerintah yang sedang berkuasa sudah barang tentu akan semaksimal mungkin menggunakan instrumen kebijakan anggaran untuk menggelontorkan subsidi langsung maupun tak langsung kepada berbagai segmen masyarakat.

Selain itu, pemerintah akan lebih waspada terhadap ancaman kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Anggaran untuk pembangunan infrastruktur yang bersifat padat karya juga tampaknya akan diperbesar.

Kedua, partai-partai politik dan para calon presiden yang semakin banyak akan menambah energi bagi masyarakat karena puncak pengeluaran mereka akan terjadi pada paro pertama 2009. Bayangkan berapa banyak calon anggota legislatif dari segala tingkat yang akan mengeluarkan isi koceknya untuk berkampanye.

Jika serangkaian langkah untuk mengamankan skenario tersebut berlangsung mulus, ancaman kemerosotan pertumbuhan investasi dan ekspor akan bisa diredam oleh konsumsi domestik. Apalagi mengingat porsi konsumsi masyarakat dan pemerintah sangat dominan, yakni lebih dari 70 persen PDB.

Dengan kerja keras dan perubahan pola pikir yang melandasi kebijakan pemerintah, tampaknya, kemerosotan tajam pertumbuhan ekonomi pada 2009 bisa diredam. Tak sepesimistis prediksi Bank Dunia (4,4 persen) dan Bank Indonesia (4 persen hingga 5 persen). Pertumbuhan di atas 5 persen, tampaknya, masih mungkin tergapai.

Membuka Mata

Krisis finansial global seharusnya makin membuka mata kita bahwa perekonomian Indonesia yang dewasa ini sudah jauh lebih baik ketimbang semasa krisis sepuluh tahun lalu ternyata masih memendam kerawanan akut yang memperlemah fondasi untuk tumbuh dan berkembang secara sehat serta berkelanjutan.

Fondasi terpenting adalah penguatan sektor tradable. Sebab, di situlah tumpuan sebagian besar kehidupan masyarakat. Gejala dini deindustrialisasi harus dihentikan dan penguatan sektor pertanian tak bisa ditunda-tunda lagi.

Yang tak kalah penting pula adalah penguatan sisi eksternal. Daya saing perekonomian harus didongkrak agar produk-produk kita mampu meningkatkan penetrasi di pasar luar negeri dan menghadapi serbuan barang-barang impor.

Upaya tersebut pada gilirannya akan memperbaiki struktur cadangan devisa kita, sehingga nilai tukar rupiah tak mudah lunglai jika menghadapi gejolak eksternal.

Semoga 2009 bisa kita jadikan momentum untuk bersih-bersih dan menghimpun energi yang masih berserakan.

*. Faisal Basri, analis ekonomi, pengajar di Universitas Indonesia, Depok

 

Jawa Pos, Opini

[ Sabtu, 27 Desember 2008 ]

One Response to “Meninggalkan 2008, Melangkah di 2009 (6)”

  1. aRif eS Says:

    Assalamu’alaikum
    …… Belakangan ini kami sangat kecewa dan semakin kecewa, karena semua melupakan adanya gejolak harga minyak tanah yang semakin melambung melewati harga premium akibat kebijakan konversi ke gas elpiji. Mungkin bapak-bapak di Jakarta yang pintar-pintar mudah mengataknnya, tapi bagi kami yang di daerah yang sudah turun temurun biasa menggunakan minyak tanah merasa dipaksa (bahkan dijajah) kebijakan tersebut. Mungkin tujuannya baik, tapi caranya yang sangat buruk. Mestinya rakyat diberikan pilihan sendiri apakah menggunakan minyak tanah atau elpiji, dan konversi dilakukan secara pelan-pelan mungkin dengan memasukkan ke kurikulum pelajaran sekolah tentang manfaat dan kelebihan penggunaan elpiji, sehingga dengan kesadaranlah kita akan beralih bukannya dipaksa. Sehingga yang menjadi sasaran utama adalah generasi yang masih di sekolah bukannya pa
    ra orang tua yang sudah puluhan tahun menggunakan minyak tanah. Apalagi ditambah dengan banyaknya kasus tabung yang meledak dan langkanya elpiji itu sendiri…. Indonesia ini untuk siapa???????????

Leave a Reply